Logo PPP

DEWAN PIMPINAN PUSAT
PARTAI PERSATUAN PEMBANGUNAN

Huruf Pegon, Kekayaan Bahasa Tulis Nusantara

04 Maret 2018 - 22:33:11 | 2613

Share: Facebook Twitter Google+ WhatsApp Telegram

thumbnail

PPP.OR.ID - Islam masuk di Indonesai dengan membawa pengaruh sangat besar. Bukan hanya terkait ajaran keagamaan tetepi juga terciptanya tradisi dan kebudayaan baru. Tidak hanya itu Islam juga membawa bahasa dimana pertama kali diturunkan, yaitu Arab. Bertemunya bahasa Arab dengan Jawa kemudian memunculkan bahasa tulis yang disebut sebagai huruf Pegon. Huruf ini dipakai oleh para ulama Islam dalam menuliskan karya, misalnya Hikayat Hang Tuah, Hikayat Raja-Raja Pasai, dan Risalah Tasawuf Hamzah Fansuri.

Huruf Pegon ditulis dalam memakai tulisan aksara Arab dimodifikasi dengan ejaan bahasa Jawa. Maka dari itu penamaannya Pegon, yang berasal dari lafal Jawa Pego, yang mempunyai arti menyimpang. Huruf Pegon atau huruf Arab Pegon dikenal dengan istilah huruf Arab Melayu, karena ternyata huruf Arab berbahasa Indonesia ini telah digunakan secara luas di kawasan Melayu mulai dari Terengganu (Malaysia), Aceh, Riau, Sumatera, Jawa (Indonesia), Brunei, hingga Thailand bagian selatan. Di Nusanta sendiri huruf Pegon popular diguna kan pada zaman dahulu dimana kerajaan Islam berdiri, bahkan arsip-arsip kerjaan juga ditulis dengan huruf Pegon. 

Dilihat dari struktur penulisannya, huruf Pegon mempunyai keunikan tersendiri. Pertama, tulisannya seperti tulisan Arab pada umumnya, namun jika dicermati susunannya atau rangkaian huruf-hurufnya bukan susunan bahasa Arab. Orang Arab sekalipun tidak akan bisa membaca tulisan Arab Pegon. Seandainya mereka bisa membacanya, tidak sejelas jika dibacakan oleh orang Jawa atau Melayu.

Keunikan kedua, yaitu penulisan Arab Pegon menggunakan semua aksara Arab hijaiyah, dilengkapi dengan konsonan abjad Indonesia yang ditulis dengan aksara Arab yang telah dimodifikasi. Modifikasi huruf Arab ini dikenal sebagai huruf jati Arab Melayu, berwujud aksara Arab serapan yang tak lazim. Misalnya untuk konsonan ‘p’, diambil huruf ‘fa’ dengan tiga titik di atasnya dan sebagainya. Selain itu, huruf Arab Pegon meniadakan syakal (tanda baca) layaknya huruf Arab gundul.

Sejarah penulisan Arab Pegon di Nusantara diperkirakan ada sejak tahun 1300 M/1400 M seiring dengan masuknya agama Islam menggantikan kepercayaan animisme, Hindu, Budha. Mengenai siapa yang menemukan huruf Arab Pegon ada beberapa pendapat yang masih belum ada titik temunya. Meskipun begitu secara dipastikan huruf Pegon merupakan karya masyarakat muslim Nusantara.

Sekarang masyarakat umum sudah tidak lagi menggunakan huruf Pegon. Ini adalah imbas dari penjajahan yang kemudian menggeser bahasa tulis masyarakat dengan huruf latin. Memprihatinkan memang kreativitas lokal harus tergerus dan tersingkir. Padahal menurut sejarah, huruf ini telah digunakan secara luas oleh para muballigh, sastrawan, pedagang hingga politikus di kawasan dunia Melayu. Huruf Pegon hanya digunakan di pesantren-pesantren di Jawa, itupun karena menjadi tradisi dalam memahami teks-teks Arab dan kitab kuning menggunakan huruf Pegon.

Seiring waktu, kesadaran untuk menghidupkan kembali bahasa Arab Pegon mulai muncul kembali. Banyak pihak yang berharap penggunaan huruf tersebut dijadikan sebagai bahan kajian yang serius. Di antara yang melakukannya itu adalah Klasika Media Malaysia, yang menggaet Pusat Pengajian Bidang Terpadu (CIAS), Universitas Kyoto Jepang untuk menerbitkan kembali sebuah majalah dengan menggunakan bahasa Arab Pegon. Perhatian yang demikian tentu cukup menggembirakan dan membuka harapan bahwa huruf Pegon tidak hilang begitu saja. (Dari berbagai sumber/ ZA)






Login Member

Kumpulan Rubrik



Rubrik Hukum
       Konsultasi Hukum
       Pos Pengaduan Publik
Rubrik Agama
       Hikmah
       Kajian Kitab
       Khazanah
       Khotbah
       Tokoh Tokoh Islam
       Konsultasi Agama
       Doa Harian
       Humor
       Kabar Islam
Rubrik Organisasi
       KTA Online
       Konsultasi Organisasi
Rubrik Seni
       Film
       Musik
       Acting
Ruang Usaha
DPLN (LN)
Bela Negara
Teknologi Tepat Guna
Hijabers dan Fashionista
Petiga TV