Logo PPP

DEWAN PIMPINAN PUSAT
PARTAI PERSATUAN PEMBANGUNAN

Industri Pupuk BUMN Hadapi Kompetitor Asing

24 Mei 2018 - 15:13:11 | 101

Share: Facebook Twitter Google+ WhatsApp Telegram

thumbnail

PPP.OR.ID - Legislator PPP, H. Iskandar D. Syaichu, SE mengingatkan bahwa saat ini sekitar 95 persen pabrik pupuk kita menggunakan gas untuk produksi pupuk. Sedangkan, harga gas di Indonesia masih sangat tinggi. Hal ini disampaikan pada saat kunjungan kerja Komisi VI DPR-RI dengan PT. Pupuk Indonesia di Gresik beberapa hari yang lalu.

“Saya khawatir kayak PT Pupuk Iskandar Muda (PIM) yang berhenti operasi semenjak November 2017 karena distributor gas, PT Perta Arun Gas (PAG), tidak menyuplai gas sesuai kesepakatan,” ungkap beliau.

Gus Is (sapaan akrabnya) menceritakan bahwa biaya produksi pupuk dalam negeri juga masih tinggi sehingga kesulitan bersaing di pasar urea nonsubsidi. Salah satu pangkal masalahnya, harga gas untuk industri dalam negeri masih terbilang tinggi. Ujungnya, harga jual menjadi tidak kompetitif. Karenanya, Gus Is mengharap pemerintah agar memperhatikan betul industri pupuk nasional agar bisa lebih kompetitif. Salah satu caranya, tentu saja menekan harga jual gas ke industri.

Dalam catatan Gus Is, kapasitas maksimal produksi holding pupuk konon mencapai 13 juta ton. Dari jumlah tersebut sebanyak 9,2 juta ton merupakan jenis urea. Ini dengan catatan seluruh pabrik berproduksi. Kemudian, kebutuhan pupuk secara nasional per tahun mencapai 13 juta ton. Sedangkan produksi Pupuk domestik hanya 8,1 juta ton.

“Pantas saja di beberapa tempat masih saja terjadi kelangkaan pupuk. Kekurangannya ini dipenuhi darimana? bagaimana dengan ambisi untuk ekspor pupuk?,” tanya Anggota DPR-RI dua periode ini.

Gus Is kembali membebarkan data bahwa kini pupuk impor semakin menekan industri dalam negeri. Data BPS menunjukkan volume impor urea melonjak sebesar 555,85% dari 95,43 juta kilogram pada 2015 menjadi 625,90 juta kilogram pada 2016. Kenaikan impor juga terjadi pada tahun 2017.

“Kondisi ini menjadikan pupuk asing akan semakin leluasan masuk ke petani kita. Inilah yang menjadikan kami prihatin atas industri pupuk nasional,” pungkas beliau.


Oleh: H. Iskandar D. Syaichu, SE

Anggota Komisi VI DPR RI Fraksi PPP





Login Member

Kumpulan Rubrik



Rubrik Hukum
       Konsultasi Hukum
       Pos Pengaduan Publik
Rubrik Agama
       Hikmah
       Kajian Kitab
       Khazanah
       Khotbah
       Tokoh Tokoh Islam
       Konsultasi Agama
       Doa Harian
       Humor
       Kabar Islam
Rubrik Organisasi
       KTA Online
       Konsultasi Organisasi
Rubrik Seni
       Film
       Musik
       Acting
Ruang Usaha
DPLN (LN)
Bela Negara
Teknologi Tepat Guna
Hijabers dan Fashionista
Petiga TV