Logo PPP

DEWAN PENGURUS PUSAT
PARTAI PERSATUAN PEMBANGUNAN

Jong Islamieten Bond: Wadah Perjuangan Pemuda Islam Terpelajar

06 September 2017 - 20:40:47

Share: Facebook Twitter Google+ WhatsApp Telegram

thumbnail

PPP.OR.ID - Jong Islamieten Bond merupakan organisasi yang didirikan atas dasar semangat keislaman akibat keterdesakan posisi Islam di organisasi Jong Java. Syamsuridjal dan Kasman Singodimedjo merupakan tokoh perintis dan pendiri Jong Islamieten Bond. Sebelumnya Syamsuridjal adalah anggota Jong Java, namun karena aspirasinya agar pengajaran Islam dalam organisasi dilaksanakan tidak ditanggapi ia keluar.

Jong Islamieten Bond didirikan pada tanggal 1 Januari 1925 M, penggunaan kata Islam merupakan upaya menghapuskan sekat primordialitas seperti yang terjadi dalam Jong-jong yang telah ada sebelumnya. Orientasi organisasi ini bukanlah politik, namun persatuan pemuda Islam di Nusantara. Hal itu  tertuang dalam stuten Jong Islamieten Bond dalam asas dan tujuannya yaitu; Pertama, mempelajari agama Islam dan menganjurkan agar ajaran-ajarannya diamalkan. Kedua, menumbuhkan simpati terhadap Islam dan pengikutnya, disamping toleransi yang positif terhadap orang-orang yang berlainan agama.

Syamsuridjal dalam kongres pertama Jong Islamieten Bond, dengan tegas menyatakan : “Allah SWT mewaJong Islamieten Bondkan kami tidak hanya berjuang untuk bangsa dan negara kita, tetapi juga untuk umat Islam di seluruh dunia. Hanya, hendaknya di samping aliran-aliran Islam, kita selalu memberi tempat kepada aliran-aliran nasionalistis. Selain kewaJong Islamieten Bondan yang utama ini, kami waJong Islamieten Bond berjuang untuk umat Islam seluruhnya, sebab kami orang Islam adalah hamba Allah SWT. dan kami hanya mengabdi kepada-Nya, Yang Maha-kuasa, Maha-arief, Maha-tahu, Raja alam semesta. Inilah prisip yang menjiwai Jong Islamieten Bond”.

Semanngat dan tujuan itu terus tumbuh menjadi fondasi bergerak organisasi Jong Islamieten Bond. Begitu berdiri Jong Islamieten Bond langsung mendapat banyak anggota yang berasal dari Jong Java, Jong Sumatranen dan organisasi pemuda lain. Tecatat dalam sejarah ketika dilangsungkan kongres pertama tahun 1926 M anggotanya sudah mencapai 1004 orang, dengan 4 cabang yang sudah berdiri yaitu di Jakarta, Solo, Yogyakarta dan Madiun.

Ketua Umum pertama Jong Islamieten Bond adalah R. Samsurizal (Raden Sam), lalu digantikan oleh Wiwoho Purbohadijoyo yang terpilih dalam kongres pertama. H. Agus Salim menjadi orang yang getol berkampanye tentang keberadaan Jong Islamieten Bond, sampai akhirnya memiliki 7 cabang. Kongres kedua pada tahun 1929 M terpilih Kasman Singodimedjo yang memimpin selama 6 tahun. Pasca kepemimpinan Kasman Singodimedjo adalah M. Arif Aini yang kemudian menahkodai Jong Islamieten Bond yang terpilih ketika kongres ketiga. M. Arif Aini kemudian memindahkan kantot pusat di Semarang. Setelah itu  Sunarya Mangunpuspito memimpin dari 1936 M sampai 1942 M. Perjalanan Jong Islamieten Bond harus terhenti karena dibekukan bersama orsama organisasi lain atas perintah Pemerintah fasis Jepang.

Sebelum Kongres Pemuda II tahun 1928 M, yang akhirnya mencetuskan Sumpah Pemuda, Jong Islamieten Bond telah membicarakan kebangsaan dan nasionalisme dalam pandangan Islam. Hal itu terjadi ketika dilangsungkan kongres Jong Islamieten Bond yang ketiga, Jogjakarta 23-27 Desember 1927. Buah dari pembahasan ini kemudian banyak memiliki pengaruh dalam penyelenggaraan Kongres Pemuda II bersama dengan Jong Indonesia, Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI) dan organisasi pemuda yang lain.

Dalam menjalankan misi organisasi Jong Islamieten Bond mendirikan majalah Majalah Het Licht yang berarti Cahaya (An-Nur) sebagai corong gerakan. Jong Islamieten Bond juga berkontribusi dalam pendidikan dengan mendirikan sekolah HIS di Tegal dan Tanah Tinggi, Batavia pada tahun 1931 M. Kontribusi besar lain Jong Islamieten Bond adalah turut serta membangkitkan nasionalisme dan mengobarkan semangat perjuangan kemerdekaan Indonesia. Jong Islamieten Bond menjadi wadah pemuda priyayi Islam dalam memperjuangkan pendidikan dan pembelajaran terhadap Islam. Beberapa hal tersebut yang tidak boleh dilupakan dalam sejarah bangsa ini, terutama oleh kalangan pemuda Islam. (Dari berbagai sumber/ ZA)





Login Member

Kumpulan Rubrik



Rubrik Hukum
       Konsultasi Hukum
       Pos Pengaduan Publik
Rubrik Agama
       Hikmah
       Kajian Kitab
       Khazanah
       Khotbah
       Tokoh Tokoh Islam
       Konsultasi Agama
       Doa Harian
       Humor
       Kabar Islam
Rubrik Organisasi
       KTA Online
       Konsultasi Organisasi
Rubrik Seni
       Film
       Musik
       Acting
Ruang Usaha
DPLN (LN)
Bela Negara
Teknologi Tepat Guna
Hijabers dan Fashionista
Petiga TV