Logo PPP

DEWAN PIMPINAN PUSAT
PARTAI PERSATUAN PEMBANGUNAN

Kesultanan Yogyakarta, Khazanah Kerajaan Islam Indonesia

18 September 2017 - 20:51:31 | 299

Share: Facebook Twitter Google+ WhatsApp Telegram

thumbnail

PPP.OR.ID -  Khasanah kerajaan Nusantara mengandung banyak pelajaran yang bisa menjadi tolak ukur atau acuan dalam melihat kondisi sekarang. Islam yang berkembang di Kerajaan Nusantara juga memainkan peran penting dalam membangun peradaban dan kebudayaan salah satunya Kasultanan Yogyakarta.

Ngayogyakarta Hadiningrat begitulah Kesultanan Yogyakarta dikenal, sekarang juga menjadi daerah Istimewa, merupakan bagian dari Kerajaan Mataram Islam yang terpecah 2, yakni Kesunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta. Kerajaan Mataram Islam sendiri bersal dari kawasan Alas Mentok yang dihadiahkan oleh Sultan Hadiwijaya atau Kesultanan Pajang kepada Ki Ageng Pemanahan setah berhasil membantunya mengalahkan Aryo Penangsang.

Ki Ageng Pamanahan kemudian mendirikan pada tahun 1577 mendirikan keraton dibawah Kasultanan Pajang. Ia menjadikan daerah Kota Gede sebagai pusat pemerintahan, hingga beliau wafat pada 1584. Puteranya, Danang Sutawijaya melanjutkan sebagai pemeimpin Kerajaan Mataram Islam. Tidak sependapat dengan ayahnya yang tunduk kepada Kerajaan Pajang, dia jusru ingin menghancurkan Pajang. Dalam riwayat lain dikatan bahwa Mataran Islam dibawah Sutawijaya hanaya ingin melepaskan diri dari dominasi Ksaultanan Pajang.

Begitu mengetahui niat tersebut, Sultan Pajang lebih dulu menyarang Mataram pada 1587. Belum sampai menyerang pasukan Pajang terkena dampak letusan Gunung Merapi. Ada juga yang mengatakan pasukan Kesultanan Pajang kalah melawan pasukan Sutawijaya.

Mataram setahun kemudian menjadi sebuah kerajaan di bawah kepemimpinan Sutawijaya mengklaim sebagai Raja Mataram berdaulat, dengan gelar Panembahan Senopati. Senopati Ingalaga Sayidin Panatagama yang berarti Panglima Perang dan Ulama Pengatur Kehidupan Beragama. Mulai saat itu kerajaan Mataram berkembang pesat sehingga menjadi kerajaan besar dan menjadi penguasa Pulau Jawa yang disegani. Setelah mangkatnya Panembahan Senopati pada 1601, Raja Mataram selanjutnya digantikan puteranya, Mas Jolang yang dikenal dengan gelar Panembahan Seda ing Krapyak.

Mas Jolang setelah wafat kemudian digantikan anaknya yaitu Pangeran Arya Martapura dan dilanjutkan kakaknya, Raden Mas Rangsang yang lebih dikenal sebagai Prabu Pandita Hanyakrakusuma dengan gelar Sultan Agung Senapati Ingalaga Abdurrahman. Pada masa ini, Kerajaan Mataram berada pada puncak kejayaannya. Sampai akhirnya Sultan Agung digantikan puteranya, Amangkurat I pada 1645. Masa kejayaan Kerajaan Mataram akhirnya mengalami kemunduran.

Perebutan kekuasaan terjadi dari dalam maupun luar istana, akhirnya meruntuhkan Kerajaan Mataram. Situasi ini dimanfaatkan penjajah VOC atau Belanda, dengan memecah belah kerajaan melalui Perjanjian Giyanti, 13 Februari 1755. Perjanjian Giyanti membagi kekuasan Kerajaan Mataram menjadi 2, yaitu Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta. Dalam perjanjian itu, juga menetapkan Pangeran Mangkubumi sebagai Sultan di Kasultanan Yogyakarta, dengan gelar Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) I.

Perjanjian Giyanti merupakan kesepakatan antara Belanda, pihak Mataram diwakili oleh Sunan Pakubuwono III, dan kelompok Pangeran Mangkubumi. Dalam perjanjian ini, Kelompok Pangeran Sambernyawa tidak dilibatkan. Sekitar 1 bulan setelah Perjanjian Giyanti, Sri Sultan HB I yang pada saat itu tinggal di Pesanggrahan Ambar Ketawang, mendirikan keraton di pusat Kota Yogyakarta, yang kini menjadi pusat pemerintahan Kasultanan Yogyakarta.

Pemerintah Hindia Belanda pun mengakui Kasultanan Yogyakarta sebagai kerajaan dengan hak mengatur rumah tangga sendiri. Semua itu dinyatakan dalam kontrak politik, yang terakhir tercantum dalam Staatsblad 1941, No. 47. Begitulah sejarah terbentuknya Kasultanan Yogyakarata. (Dari berbagai sumber/ ZA)





Login Member

Kumpulan Rubrik



Rubrik Hukum
       Konsultasi Hukum
       Pos Pengaduan Publik
Rubrik Agama
       Hikmah
       Kajian Kitab
       Khazanah
       Khotbah
       Tokoh Tokoh Islam
       Konsultasi Agama
       Doa Harian
       Humor
       Kabar Islam
Rubrik Organisasi
       KTA Online
       Konsultasi Organisasi
Rubrik Seni
       Film
       Musik
       Acting
Ruang Usaha
DPLN (LN)
Bela Negara
Teknologi Tepat Guna
Hijabers dan Fashionista
Petiga TV