Logo PPP

DEWAN PIMPINAN PUSAT
PARTAI PERSATUAN PEMBANGUNAN

Konflik Arab Spring dan Berubahnya Haluan Arab Saudi

15 Desember 2017 - 19:46:41 | 306

Share: Facebook Twitter Google+ WhatsApp Telegram

thumbnail

PPP.OR.ID - Konflik yang bermuara pada peperangan dan kekacauan negara-negara Timur Tengah sejak akhir tahun 2010 merupakan hal yang memprihatinkan. Hal tersebut tidak hanya memporak-porandakan negara yang dilanda konflik, namun juga menimbulkan kekhawatiran dunia. Kekhawatiran sangat wajar sebab semula Arab Spring hanya melanda negara Tunisia akhirnya merembet ke Suriah, Libya, Yaman dan bahkan Mesir .

Revolusi (Arab Spring) yang dalam narasi umumnya untuk menurunkan pemimpin diktator justru berlanjut konflik berkepanjangan. Harapan akan kesejahteraan yang semula diinginkan sekarang seakan menjadi angan-angan belaka. Konflik terjadi semakin meluas, bahkan turut melibatkan negara-negara non-Arab. Dalih mendamaikan suasane negara luar masuk dan melakukan berbagai upaya menyumbang kehancuran, serangan darat dan udara dilakukan turut meluluh lantahkan bangunan dan infrastruktur yang ada. 

Sementara di sisi lain kelompok ekstrimis bermunculan dan menggalang kekuatan dengan berbagai alasan dan latarbelakang. Salah satunya adalah Negara Islam Irak dan Suriah atau lebih dikenal dengan ISIS. Merekalah yang menjadi alas an utama terlibatnya negara-negara lain termasuk Amerika Serikat dan Inggris melakukan penyerbuan ke negara-negara Arab. Perseteruan antar negara yang saling dendam sejarah ikut menambah kekacauan. Tentu yang menjadi korban adalah negara-negara yang diterjang fenomena Arab Spring.

Arab Saudi Berbelok

Fenomena kekacauan dan konflik di atas tampaknya memberi pukulan yang menyadarkan Arab Saudi mengenai tata kelola negara. Tidak ingin terjadi hal serupa seperti Tunisia, Mesir, Libya dan lainya serta menjauhkan diri dari ancaman faham radikalisme, Arab Saudi memilih mengikuti Indonesia yaitu mengembangkan faham Islam moderat. Sebelumnya, Arab Saudi dikenal sebagai negara yang lebih banyak menganut Wahabi dan menerapkan aturan yang ketat bagi perempuan. Karena Wahabi disinyalir sebagai sarang radikalisme maka lewat putra mahkota Muhammad bin Salman merubah haluan dan merombak tata aturan hukum menjadi lebih moderat.

Komitmen ini disuaran secara lantang di dunia internasional dalam berbagai forum. Muhammad bin Salman juga memenjarakan 11 Pangeran yang terlibat kasu korupsi. Ini menjadi bukti keseriusannya mengelola pemerintahan Arab Saudi menjadi lebih baik. Sikap demikian itu kemudian mendapat sambutan dan simpati dari banyak negara termasuk Indonesia sebagai negara yang mengembangkan Islam moderat sudah lama.

Apa yang dilakukan Arab Saudi terutama putera mahkota Muhammad bin Salman merupakan hal yang sangat realistis dengan pertimbangan matang. Ini artinya Arab Saudi juga mendukung terwujudknya perdamaian dunia dengan menghambat perkembangan radikalisme. Apresiasi terhadap siakp Arab Saudi menjadi sangat wajar. 

Terlebah dari berbagai sisi positif tersebut, kita juga tidak boleh lupa apa yang dilakukan Arab Saudi bersama Amerika Serikat, juga rival abadinya Iran di Yaman. Negara-negara tersebut ikut andil menyumbang kehancuran dengan menjadikan Yaman sebagai arena perang, melanjutkan perseteuan dan konflik lama mereka. Jangan karena upaya moderatisasi yang dilakukan Arab Saudi kita lupa dengan kelakuan salahnya yang menyumbang kehancuran. Semoga Arab Saudi segera tersadar dan benar-benar merubah haluan bukan hanya setengah jalan saja, demi terwujudnya kejayaan Islam yang hakiki. (ZA)





Login Member

Kumpulan Rubrik



Rubrik Hukum
       Konsultasi Hukum
       Pos Pengaduan Publik
Rubrik Agama
       Hikmah
       Kajian Kitab
       Khazanah
       Khotbah
       Tokoh Tokoh Islam
       Konsultasi Agama
       Doa Harian
       Humor
       Kabar Islam
Rubrik Organisasi
       KTA Online
       Konsultasi Organisasi
Rubrik Seni
       Film
       Musik
       Acting
Ruang Usaha
DPLN (LN)
Bela Negara
Teknologi Tepat Guna
Hijabers dan Fashionista
Petiga TV