Logo PPP

DEWAN PIMPINAN PUSAT
PARTAI PERSATUAN PEMBANGUNAN

Kyai Badawi, Penasihat Presiden 2 Orde

12 Juni 2017 - 14:43:12 | 1214

Share: Facebook Twitter Google+ WhatsApp Telegram

thumbnail

PPP.OR.ID - Kyai Haji Ahmad Badawi atau lebih sering dipanggil Kyai Badawi lahir di Kampung Kauman, Yogyakarta, pada 5 Februari 1902. Ia merupakan putra dari pasangan KH Muhammad Fakih dan Nyai Hj Sitti Habibah. Kedua orang tuanya adalah warga Muhammadiyah. Bahkan, Sitti Habibah merupakan adik kandung dari pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan.

Kyai Badawai adalah salah satu diantara pimpinan Muhammadiyah yang mengeyam pendidikan dari dunia pesantren, mengingat sangat jarang pimpinan Muhammadiyah yang memiliki latar pendidikan pesantren. Setelah mengenyam pendidikan agama dari sang ayah, beliau langsung belajar ke berbagai pesantren selama kurang lebih 19 tahun.Berkat pendidikannya tersebut beliau memiliki wawasan lebih luas dan keluesan dalam bersikap.

Kyai Badawi tercatat ia pernah menjadi Angkatan Perang Sabil (APS) ketika masa perjuangan kemerdekaan. Saat terjadinya agresi militer Belanda kedua, ia ditugaskan sebagai imam II APS untuk Daerah Istimewa Yogyakarta. Ia juga pernah menjadi anggota Laskar Rakyat Mataram atas instruksi Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan bergabung di Batalyon Pati serta Resimen Wiroto, MPP Gedongan.

Begitu Indonesia merdeka, Badawi mengawali karier politiknya. Ia bergabung dengan Partai Masyumi. Pada 1950, namanya dikukuhkan sebagai wakil ketua Majelis Syuro Masyumi di Yogyakarta. Di partai ini, ia tidak banyak memainkan peran penting karena partai ini kemudian dibubarkan.

setelah tidak berkecimpung dalam dunia pilitik, Kyai Badawi memfokuskan diri untuk mensyiarkan agama lewat Muhammadiyah. Ia sempat mengabdikan diri sebagai guru di madrasah milik Muhammadiyah. Namun, sikap istiqamahnya di bidang tabligh membuatnya diberi amanah sebagai ketua Majelis Tabligh Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah. Peran itu ia pegang pada 1933. Seiring waktu berjalan, amanah yang diberikan kepadanya terus bertambah.

Ikhtiarnya yang ikhlas membuat banyak pihak semakin menaruh hati kepadanya. Ia ditunjuk menjadi kepala Madrasah Za’imat yang kemudian digabung dengan Madrasah Mualimat pada 1942. Di Madrasah Mualimat ini ia terobsesi memberdayakan potensi Muslimah untuk menjadi mubalighat yang andal.

Kyai Badawi dalam perjalanannya kemudian terpilih sebagai Ketua PP Muhammadiyah selama dua periode. Periode pertama diamanahkan dari hasil Muktamar ke-36 Muhammadiyah di Jakarta. Ia diangkat sebagai ketua PP Muhammadiyah selama dua periode.

Sikap Kyai Badawi yang konsisten berjuang dengan ikhlas menarik perhatian Soekarno. Pada 1963, Soekarno meminta Kyai Badawi untuk menjadi penasihat pribadinya di bidang agama. Setelah melewati pertimbangan yang masak, permintaan itu disetujui oleh Kyai Badawi. Namun, ia tak sedikit pun memanfaatkan posisi itu untuk mengejar ambisi pribadi.

Presiden Soeharto, pemimpin Orde Baru juga menginginkan Kyai Badawi menjadipenasihat. Permintaan itu diterima. Hanya saja, ia tak bisa menjalankan peran itu secara optimal. Belum sampai menuntaskan tugas dan jabatannya sebagai Dewan Pertimbangan Agung, Kyai Badawi wafat pada Jumat, 25 April 1969. (Dari berbagai Sumber/ ZA)





Login Member

Kumpulan Rubrik



Rubrik Hukum
       Konsultasi Hukum
       Pos Pengaduan Publik
Rubrik Agama
       Hikmah
       Kajian Kitab
       Khazanah
       Khotbah
       Tokoh Tokoh Islam
       Konsultasi Agama
       Doa Harian
       Humor
       Kabar Islam
Rubrik Organisasi
       KTA Online
       Konsultasi Organisasi
Rubrik Seni
       Film
       Musik
       Acting
Ruang Usaha
DPLN (LN)
Bela Negara
Teknologi Tepat Guna
Hijabers dan Fashionista
Petiga TV