Logo PPP

DEWAN PIMPINAN PUSAT
PARTAI PERSATUAN PEMBANGUNAN

Mahmoed Joenoes, Pelopor Mata Pelajaran Agama Islam di Sekolah Formal

27 Maret 2018 - 20:09:51 | 217

Share: Facebook Twitter Google+ WhatsApp Telegram

thumbnail

PPP.OR.ID – Namanya memang tidak banyak dikenal, bisa dikatakan dia bekerja dalam senyap tanpa hiruk pikuk heroisme. Namun langkahnya dan jejaknya nyata dirasakan sampai sekarang, yaitu masuknya mata pelajaran agam Islam dalam kurikulum penidikan kita. Buah dari usahanya itu kita yang pernah mengenyam pendidikan formal dapat menerima pelajaran agama di sekolah, meskipun dengan waktu yang terbatas karena harus membagi waktu dengan pelajaran. Jauh berbeda dengan lembaga pendidikan pesantren tentunya yang hampir keseluruhan memfokuskan pada keilmuan agama.

Mahmoed Joenoes merupakan tokoh kelahiran 10 Februari 1899 M Sungayang, Tanah Datar, Minangkabau. Sejak kecil ia memang sudah memiliki ketertarikan terhadap ilmu agama Islam dan itu terbawa sampai dewasa sehingga menjadi jalan perjuangan hidupnya. Ia belajar Al-Qur'an di Surau Talang kepada kakeknya dan khatam dalam usia tujuh tahun, sampai kemudian menggantikan kakenya mengajar di surau. Pada tahun 1908, ia masuk ke sebuah Sekolah Desa di Sungayang. Karena jemu dengan pelajaran di kelas, pada tahun keempat ia pindah ke Madras School pimpinan Muhammad Thaib Umar di Surau Tanjung Pauh. Di sana ia belajar setiap hari dari pagi sampai siang. 

Ketika usianya 12 tahun ia menarik diri dari mengajar di surau. Begitu menginjak umur 14 tahun ia dipercaya menjadi mudir (guru bantu) di Madras School. Pengalaman mengajar di surau dan Madras School menjadi pengalaman berharga baginya yang kemudian selama hidupnya sebagai pendidik dan pengajar. Perjalanan karir membawanya bergabung dalam Persatuan Guru Agama Islam (PGAI) yang kelak membidani beberapa sekolah Islam dan perguruan tinggi Islam terawal di Indonesia. 

Pada 1923 M, ia mengambil kuliah di Kairo, Mesir dan kembali ke kampung halamannya pada 1931 M. Sepulangnya dari Kairo, melalui Madras School ia memperkenalkan perjenjangan madrasah yang dipakai Indonesia saat ini. Kemudian ia mencurahkan waktu mengajar di Padang, membuka Normal Islam School, dan memimpin Sekolah Tinggi Islam (STI) Padang.

Sejak pendudukan Jepang, ia bekerja dalam pemerintahan membidangi masalah pendidikan Islam. Setelah pendidikan Islam masuk dalam kurikulum di Minangkabau, seiring kemerdekaan Yunus meneruskan usulannya memasukkan mata pelajaran pendidikan agama di sekolah pemerintah untuk diberlakukan di Sumatera hingga disetujui pada 1947. Berikutnya, mata pelajaran agama diadopsi dalam kurikulum nasional sejak 20 Juanuari 1951 lewat usulannya sebagai pegawai Departemen Agama. 

Pada 1 Juni 1957 M, Yunus menjabat sebagai rektor pertama Akademi Dinas Ilmu Agama (ADIA) di Jakarta yang diteruskan menjadi UIN Syarif Hidayatullah. Jabatan terakhirnya selama menjadi pegawai Departemen Agama adalah rektor pertama IAIN Imam Bonjol sejak 1967 sampai 1970. Ia meninggal dalam usia 82 tahun pada 16 Januari 1982.

Selama hidupnya, Ia telah melahirkan banyak karya, sedikitnya ada 75 judul buku dihasilkannya, termasuk juga menyusun Tafsir Qur'an Karim dan kamus Arab-Indonesia. Buku-bukunya masih dipergunakan untuk keperluan pengajaran madrasah dan pesantren Indonesia. Ia menerima gelar doktor kehormatan di bidang tarbiyah dari IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta dan namanya disematkan untuk jalan menuju kampus IAIN Imam Bonjol, Padang. (Dari berbagai sumber/ ZA)





Login Member

Kumpulan Rubrik



Rubrik Hukum
       Konsultasi Hukum
       Pos Pengaduan Publik
Rubrik Agama
       Hikmah
       Kajian Kitab
       Khazanah
       Khotbah
       Tokoh Tokoh Islam
       Konsultasi Agama
       Doa Harian
       Humor
       Kabar Islam
Rubrik Organisasi
       KTA Online
       Konsultasi Organisasi
Rubrik Seni
       Film
       Musik
       Acting
Ruang Usaha
DPLN (LN)
Bela Negara
Teknologi Tepat Guna
Hijabers dan Fashionista
Petiga TV