Logo PPP

DEWAN PIMPINAN PUSAT
PARTAI PERSATUAN PEMBANGUNAN

Maudu Lompoa, Tradisi Islam Masyarakat Sulawesi Selatan

12 Februari 2018 - 19:50:37 | 469

Share: Facebook Twitter Google+ WhatsApp Telegram

thumbnail

PPP.OR.ID – Islam merupakam dengan jumlah penganut terbesar di Indonesia Terang saja hal tersebut berpengaruh terhadap perkembangan budaya dan tradisi lokal. Indonesia yang dikenal memiliki banyak suku dengan kultur buadaya masing-masing tidak sedikit menyerap Islam dalam praktek kebudayaannya. Salah satunya adalah Maudu Lompoa, sebuah tradisi yang dilakukan masyarakat Takalar sebagai puncak perayaan dari peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. 

Maudu Lompoa menjadi bukti dimana agama dan kebudayaan lokal dapat bersatu membentuk sebuah tradisi yang serasi, berisi nilai-nilai luhur dipraktekkan turun-terumun. Semua unsur dan lapisan masyarakat bersatu bersama-sama merayakan tradisi yang satu ini. Perayaan yang diselenggarakan di Sungai Cikoang ini tiap tahun menyita banyak perhatian masyarakat. Bukan hanya mereka yang ikut dalam prosesi tetapi juga mereka yang sekedar menyaksikan.

Tradisi masyarakat bernafaskan Islam ini sangat unik, kain khas Sulawesi yang berwarna-warni dipakai untuk menghias julung-julung atau kapal kayu yang dilakukan oleh para pemuda secara bergotong royong. Di dalam kapal-kapal itu diisi dengan berbagai macam bahan pokok mulai dari hasil bumi, telur yang juga diwarnai berbagai macam warna juga perlengkapan sehari-hari seperti pakaian, celana, sampai perlengkapan mandi seperti pasta gigi dan sabun. Bukan tanpa alasan kapal atau julung-julung dihias sedimikian rupa, ini merupakan simbolisasi dari ajaran Islam masuk ke wilayah Cikoang dibawa oleh para pedagang.

Tradisi yang ditujukan untuk menanamkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW telah dimulai dengan ritual-ritual dan prosesi adat yang dilaksanakan selama 40 hari sebelum puncak. 

Baru kemudian dimulai dengan prosesi Angngantara’ kanre Maudu yaitu mengantar persiapan Maulid ke Lokasi maudu’ adalah di tepi Sungai Cikoang. Dilanjutkan dengan Pannarimang kanre Maudu atau penerimaan nasi Maulid yang dilakukan oleh guru sebagai memimpin prosesi upacara. Kemudian dilakukan Rate’ atau pembacaan syair pujian pada Rasulullah SAW dan keluarganya dengan lagu dan irama yang amat khas dan menyentuh hati.

Setelah acara inti selesai dilakukan dilanjutkandengan Pattoanang atau sesi Istirahat, penjamuan makan untuk undangan. Makanan yang dihidangkan dibuat sendiri oleh penyelenggara acara dan para undangan dapat menikmati makanan dan minuman sambil beramah ramah. Unjung acaranya adalah Pambageang Kanre Maudu’ yaitu pembagian nasi Maulud untuk dibawa pulang ke rumah masing-masing sebagai berkah dari hadrat Nabi oleh penyelenggara, menurut tingkatan sosial di dalam masyarakat.

Menurut sejarah yang dipercaya oleh masyarakat Takalar. Maudu’ Lompoa ini bermula saat Sayyid Djalaluddin bin Muhammad Wahid Al’ Aidid datang ke Sulawesi Selatan pada abad ke-17. Saat itu Sayyid Djalaluddin bin Muhammad Wahid Al’ Aidid tiba di kerajaan Gowa-Makassar. Sayyid Djalaluddin sendiri adalah seorang ulama besar asal Aceh. Ia merupakan cucu tokoh terkenal Sultan Iskandar Muda Mahkota. Selain itu, Sayyid juga memiliki darah keturunan Arab Hadramaut, Arab Selatan, dan juga masih keturunan Nabi Muhammad SAW ke 27.


Karena memiliki darah keturunan bukan orang sembarangan, maka Sayyid Djalaluddin kemudian diangkat sebagai Mufti kerajaan oleh Sultan Alauddin, lalu namanya diganti menjadi Muhammad al-Baqir I Mallombassi Karaeng Bontomangape Sultan Hasanuddin. Saat tiba di Sulawesi Selatan, Sayyid Djalaluddin membawa serta dua naskah agama dari Aceh yakni, Akhbarul Akhirah dan Ash-Shiratal Mustaqim. Naskah-naskah karangan Nuruddin ar-Raniriy tersebut juga sempat dipelajari oleh Syekh Yusuf sebelum berangat ke Timur Tengah untuk memperdalam ilmunya.

Sayyid Djalaluddin Al’ Aidid mengajarkan tiga hal penting kepada masayarakat di tanah Sulawesi Selatan, yang kemudian menjadi faktor utama terwujudnya upacara Maudu’ Lompoa, yaitu prinsip al-ma’rifah, al-iman dan al-mahabbah. Dengan prinsip itu diyakini bahwa pemahaman ruhaniah secara hakekat terhadap Allah terlebih dahulu harus didahului dengan pemahaman mendalam atas kejadian dan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Ini menjadi titik awal dari tradisi unik Maudu Lompoa oleh masyarakat Sulawesi Selatan khusunya daerah Takalar. (Dari berbagai sumber/ ZA)






Login Member

Kumpulan Rubrik



Rubrik Hukum
       Konsultasi Hukum
       Pos Pengaduan Publik
Rubrik Agama
       Hikmah
       Kajian Kitab
       Khazanah
       Khotbah
       Tokoh Tokoh Islam
       Konsultasi Agama
       Doa Harian
       Humor
       Kabar Islam
Rubrik Organisasi
       KTA Online
       Konsultasi Organisasi
Rubrik Seni
       Film
       Musik
       Acting
Ruang Usaha
DPLN (LN)
Bela Negara
Teknologi Tepat Guna
Hijabers dan Fashionista
Petiga TV