Logo PPP

DEWAN PIMPINAN PUSAT
PARTAI PERSATUAN PEMBANGUNAN

Menyelamatkan Rohis dari Bahaya Radikalisme

06 Desember 2017 - 19:54:40 | 115

Share: Facebook Twitter Google+ WhatsApp Telegram

thumbnail

PPP.OR.ID – Aktivitas kegiatan keagamaan di Indonesia beberapa tahun terakhir ini semakin gencar digelar. Geliat semangat keagamaan tumbuh subur terlihat dari menjamurnya majelis ta’lim dan pengajian di kantor-kantor. Hal ini merupakan sebuah hal yang patut disyukuri sebab mengindikasikan kesalehan masyarakat meningkat. Meskipun begitu, fenomena ini harus dilihat secara menyeluruh agar tidak terjebak dalam pandangan sempit yang kemudian menyesatkan. Dibalik geliat maraknya pengajian itu, perilaku sosial masyarakat justru menunjukkan sebaliknya. Kemarahan, hasutan kebencian dan berita bohong menyebar dimana-mana. Kesalehan ritual yang kita lihat semakin gencar ternyata tidak berbanding lurus dengan kesalehan sosial.

Fenomena ini merupakan sebuah hal mengkhawatirkan pasalnya jika ditelisik lebih jauh justru konservatisme berkembang bersamaan dengan rajinnya kegiatan keagamaan digelar. Parahnya lagi konservatisme yang mengarah pada radikalisme ini tidak hanya menjangkiti mereka yang usianya dewasa, tetapi pelajar juga sudah disusupi. Generasi emas harapan bangsa telah terjangkiti oleh faham mengarah pada tindak kekerasan dan melawan negara. Sebagaimana yang terungkap dalam laporan penelitian Ma’arif Institut tahun 2011 disejumlah daerah berjudul “Pemetaan Persoalan Radikalisme di Kalangan Pelajar”. Penelitian ini mengungkap bahwa banyak pengurus rohani Islam (rohis) berperilaku semakin intoleran dan radikal. 

Senada dengan penelitian Ma’arif Institut, laporan Wahid Foundation dalam penelitian terbaru melansir sebuah hal yang tidak jauh berbeda. Penelitian yang dipublikasikan bulan Februari lalu menyatakan jika faham radikalisme sudah tumbuh di sekolah-sekolah. Menurut data yang ada dari 1.626 siswa (aktifis rohani Islam) yang menjadi responden, 41 persennya menyetujui jika Indonesia dirubah menjadi negara Islam. Lebih jauh lagi mengenai hal itu60 persen diantaranya, sebagaimana dikatakan oleh Direktur Wahid Foundation Zannuba Arifah Chafsoh, para siswa ini menyatakan siap berjihad di masa mendatang.

Fakta-fakta di atas tidak bisa dibiarkan begitu saja sebab dapat mengancam keutuhan bangsa dan negara. Berbagai faktor yang meneyebabkan para pelajar terkontaminasi oleh faham radikalisme harus segera dideteksi dan ditanggulangi. Guru sebagai pemegang peran kunci di sekolah harus bertindak proaktif melakukan pencegahan dan pengawasan. Terlebih lagi guru agama Islam haruslah orang yang kompeten dalam bidangnya agar tidak menjerumuskan anak didik. Tidak kalah penting dari itu adalah kegiatan ektrakurikuler rohis jangan sampai diisi oleh orang dari luar sekolah yang tidak kompeten, apalagi sampai mengajarkan faham radikalisme.

Pemerintah sebagai pemegang kebijakan perannya sangat diperlukan melahirkan sistem dan mekanisme yang ketat untuk menyaring faham radikalisme agar tidak masuk dilembaga pendidikan. Bahaya dari paham radikal masuk sekolah tidak terjadi hari ini, tetapi dimasa depan. Mereka yang pemahaman agamanya kurang mudah disusupi oleh faham radikal, biasanya dengan dalih pemurnian agama dan semacamnya. Pembubaran HTI menjadi salah satu contoh bagaimana negara ini sedang menghadapi ancaman luar biasa. Dunia pendidikan yang harusnya menjadi harapan bangsa dimasa depan telah disusupi. Segala elemen harus segera bergerak bersama, menyelamatkan masa depan bangsa. Menyelamatkan aset berharga yaitu anak-anak kita pemegang estafet kepemimpinan nantinya. (ZA)






Login Member

Kumpulan Rubrik



Rubrik Hukum
       Konsultasi Hukum
       Pos Pengaduan Publik
Rubrik Agama
       Hikmah
       Kajian Kitab
       Khazanah
       Khotbah
       Tokoh Tokoh Islam
       Konsultasi Agama
       Doa Harian
       Humor
       Kabar Islam
Rubrik Organisasi
       KTA Online
       Konsultasi Organisasi
Rubrik Seni
       Film
       Musik
       Acting
Ruang Usaha
DPLN (LN)
Bela Negara
Teknologi Tepat Guna
Hijabers dan Fashionista
Petiga TV