Logo PPP

DEWAN PIMPINAN PUSAT
PARTAI PERSATUAN PEMBANGUNAN

Nasionalisme Tidak Bertentangan dengan Islam

09 Oktober 2017 - 21:55:25 | 216

Share: Facebook Twitter Google+ WhatsApp Telegram

thumbnail

PPP.OR.ID - Memperbincangkan soal nasionalisme memang tidak ada habisnya. Apalagi jika dihubungkan dengan agama. Banyak orang kemudian akan memunculkan pendapatnya masing-masing. Tidak jarang pendapat itu terjebak dalam belenggu pencrian dalil yang tekstual, sehingga mereka tidak mendapatinya. 

Nasionalisme atau cinta tanah air sejatinya telah diajarkan oleh nabi Muhammad SAW ketika beliau hijrah ke Madinah. Beliau meninggalkan kota Mekah seambil berucap 

“Demi Allah, sesungguhnya engkau adalah bumi Allah yang paling aku cintai, seandainya bukan yang bertempat tinggal di sini mengusirku, niscaya aku tidak akan meninggalkannya”.

Kita tentu juga sudah masyhur dengan ungkapan “Hubbul watahan minal Iman” yang memiliki arti cita tanah air adalah bagian dari iman. Gambaran tersebut sangat gamblang memperlihatkan bagaimana nasionalisme merupakan hal yang sah-sah saja dan tidak bertentangan dengan agama. Tidak hanya dalam satu kesempatan Nabi mengungkapkan rasa cintanya kepada tanah air, dalam kesempatan lain juga ketika beradadimadinah beliau shalat mengahadap Bait Al-Maqdis. Setelah beribadah selama enam belas bulan, beliau rindu dengan kota Mekah dan Ka’bah. Sebagaimana kita ketahui bahwa Ka’bah adalah kiblat leluhur yang menjadi kebanggaan orang-orang Arab. 

Sebagaimana diungkapakan Al-Qasimi dalam tafsirnya, Nabi Muhammad SAW bolak-balik menegadah kelangit dan memohon agar kiblat diarahkan ke Mekah. Permohonan itu kemudian dikabulkan oleh Allah dengan turunnya firman:

“Sungguh Kami (senang) melihat wajahmu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjid Al-Haram...” (QS Al-Baqarah [2]: 144).

Nasionalisme Nabi Muhammad SAW terhadap kota Mekah bigitu kuat, sehingga tidak hanya dipraktekkan dalam kehidupan pribadi tetapi juga kehidupan bermasyarakat. Cita tanah aiar atau nasionalisme merupakan hal yang naluriah. Tentu sebuah hal yang naluriah ini tidak smerta-merta bisa ditawar atau dihilangkan. Sebelum lahir kita tentu tidak bisa memilih dimana ingin dilahirkan, maka dari itu begitu kita lahir dan dikarunia hidup disanalah tanah air kita. 

Berkali-kali Nabi Muhammada SAW mencontohi tentang nasionalisme, bahkan membela tanah air sampai disamakan dengan membela agama. Sebagaimana sabada beliau orang yang gugur karena membela keluarga, mempertahankan harta, dan negeri sendiri dinilai sebagai syahid sebagaimana yang gugur membela ajaran agama. Sungguh sebuah hal yang luar biasa bukan kedudukan nasionalisme bagi Nabi Muhammad.

Dikuatkan lagi dengan dalil Al-Quran yang menyandingkan membelaagama denganmembela negara dalam firman-Nya:

“Allah tidak melarang kamu berbuat baik, dan memberi sebagian hartamu (berbuat adil) kepada orang yang tidak memerangi kamu karena agama, dan tidak pula mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu karena agama, mengusir kamu dari negerimu, dan membantu orang lain mengusirmu (QS Al-Mumtahanah [60]: 8-9)”.

Hal ini menunjukkan bahwa Islam sendiri memberikan tempat bagai rasa cinta tanah air atau nasionalisme. Oleh sebab itu mempertentangkan nasionalisme dan Islam merupakan sebuah hal yang kurang tepat. (Dari berbagai sumber/ ZA) 





Login Member

Kumpulan Rubrik



Rubrik Hukum
       Konsultasi Hukum
       Pos Pengaduan Publik
Rubrik Agama
       Hikmah
       Kajian Kitab
       Khazanah
       Khotbah
       Tokoh Tokoh Islam
       Konsultasi Agama
       Doa Harian
       Humor
       Kabar Islam
Rubrik Organisasi
       KTA Online
       Konsultasi Organisasi
Rubrik Seni
       Film
       Musik
       Acting
Ruang Usaha
DPLN (LN)
Bela Negara
Teknologi Tepat Guna
Hijabers dan Fashionista
Petiga TV