Logo PPP

DEWAN PIMPINAN PUSAT
PARTAI PERSATUAN PEMBANGUNAN

Opu Daeng Risaju, Memilih Jalan Hidup Sebagai Pejuang

18 September 2017 - 18:47:39 | 533

Share: Facebook Twitter Google+ WhatsApp Telegram

thumbnail

PPP.OR.ID - Hidup itu berjuang dan berjuang adalah sebuah hal yang tidak mudah, terkadang harus sampai meneteskan darah juga merelakan nyawa. Tentu hal demikian itu yang dulu pernah dirasakan oleh para pejuang di zaman penjajahan, tak terkecuali Opu Daeang Risaju. Beliau merupakan pejuang perempuan yang tangguh, keteguhannya melawan penjajah tidak disangsikan lagi. Beliau bahkan rela melepas gelar kebangsawanannya dan juga bercerai dengan suaminya demi cita-cita kemerdekaan. Berkat jerih payah dan perjuangannya seta  jasa-jasanya kepada negara, Opu Daeng Risaju dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada tanggal 3 November 2006.

Opu Daeang Risaju atau Famajjah (nama kecil) merupakan keturunan bangsawan Luwu, orang tuanya adalah Muhammad Abdullah To Baresseng dan Opu Daeng Mawellu. Beliau dilahirkan di Palopo pada tahun 1880. Al-Quran telah beliau pelajari sejak kecil, juag ilmu-mu seperti nahwu, sharaf dan balaghah. Tidah hanya itu, beliau juag mempelajari ilmu fiqih dari buku karangan khatib Sulaweman Datuk Patiman, salah seorang ulama penyebar agama Islam di Sulawesi Selatan.

Bekal keilmuan yang dimiliki,  beliau tumbuh menjadi seorang perempuang yang memiliki kharisma tinggi dalam masyarakat Luwu. Beliau menikah dengan H. Muhammad Daud, seorang ulama dari keluarga Kerajaan Luwu. Hidupnya yang dikelilingi oleh orang-orang berpengaruh dan jiwa patriotism yang dimiliki serta kematangan pengetahuannya mengantarkannya terjun dalam dunia politik. Pada tahun 1927 beliau bergabung dengan Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII) cabang Pare-pare. Kiprahnya tergolong cemerlang, baru tiga tahun beliau bergabung beliau langsung terpilih menjadi Ketua PSII Wilayah Tanah Luwu.

Keaktifannya di dunia politik dan medan perjuangan merupakan jalan kehidupan yang beliau pilih. Sebenarnya beliau bisa saja hidup damai berkgelimang kekayaan dalam keluarga kerajaan jika mau. Tapi bukan itu jalan hidup yang beliau pilih, berjuang bersama rakyat dalam kondisi menderita disebabkan oleh penjajah adalah panggilan jiwanya. Maka apapun yang dimiliki rela beliau pertaruhkan untuk membela nasib rakyat.

Perempuan Aktivis PSII ini lebih akrab dengan tahanan dan siksaan dibanding dengan kemewahan. Beliau ditangkap berulangkali karena dianggap memprovokasi rakyat untuk melawan penjajah Belanda. Beliau dianggap sebagai duri dalam daging oleh belanda karena aktifitas politiknya di PSII. Kehadirannya dalam berbagai kegiatan dan kongres PSII baik di Sulawesi Selatan ataupun di PSII Pusat di Batavia selalu mendapat sorotan dari Belanda. Jengah dengan aktivitas yang dilakukan beliau, Belanda melauli kendalinya di Kerajaan luwu akhirnya mencabut gelar kebangsaan Opu Daeng Risaju pada tahun 1932. Tidak berhenti disitu Opu Daeng Risaju kemudian pada tahun 1934 juga dipenjara selam 14 bulan. Selama dalam tahana beliau disuruh membersihkan jalan dan mendorong gerobak di tengah-tengah kota Palopo.

Penjara dan kehidupan keras yang dilewati Opu Daeng Risaju tidak membuat semangatnya luntur. Beliau justru semakin gigih berjuang, baik ketika dijajah Belanda maupun Jepang. Ketika Jepang menyerah kepada sekutu beliau mengobarkan semangat juang para pemuda dan memobilisasinya untuk melawan tentara NICA. Buah tidakannya tersebut, beliau ditangkap oleh tentara NICA disebuah tempat persembunyiannya. Beliau dipenjara selama 11 bulan tanpa diadili, juga disiksa dari mulai disuruh berdiri tegap menghadap matahari, senapan diletakkan di pundakkan kemudian ditembakkan serta penyiksaan lain. Ketika itu usia Opu Daeng Risaju sudah 67 tahun, semua siksaan itu membuat beliau tuli seumur hidup samapi akhirnya dibebaskan.

Hari-hari tua dilewati Opu Daeng Risaju bersama dengan putranya H. Abdul Kadir Daud pindah ke Pare-pare pada tahun 1949. Namun ketika putranya meninggal dunia, beliau kembali ke Palopo. Beliau tinggal disana sampai tutup usia pada 10 Februari 1964. Jenazah dikebumikan di makam para raja Luwu disebuah kawasan bernama Lokke. (Dari berbagai sumber/ ZA)





Login Member

Kumpulan Rubrik



Rubrik Hukum
       Konsultasi Hukum
       Pos Pengaduan Publik
Rubrik Agama
       Hikmah
       Kajian Kitab
       Khazanah
       Khotbah
       Tokoh Tokoh Islam
       Konsultasi Agama
       Doa Harian
       Humor
       Kabar Islam
Rubrik Organisasi
       KTA Online
       Konsultasi Organisasi
Rubrik Seni
       Film
       Musik
       Acting
Ruang Usaha
DPLN (LN)
Bela Negara
Teknologi Tepat Guna
Hijabers dan Fashionista
Petiga TV