Logo PPP

DEWAN PIMPINAN PUSAT
PARTAI PERSATUAN PEMBANGUNAN

Pengelolaan Kehidupan Masyarakat dalam Islam

20 September 2017 - 13:53:18 | 55

Share: Facebook Twitter Google+ WhatsApp Telegram

thumbnail

PPP.OR.ID - Sejarah peradaban manusia yang berjalan ribuan tahun turut membawa serta bagaimana masayarakat mengatur kehidupan mereka. Pengelolaan kehidupan sosial yang tidak hanya demi kepentingan individu semata. Pembentukan sebuah tata aturan menjadi sangat penting dalam kehidupan bermasyarakat, agar tidak saling mengganggu dan segala hak-hak dasar mereka sama-sama terpenuhi.

Pengelolan hidup bermasyarakat adalah sepanjang peradaban manusia sendiri. Sebagai makhluk sosial manusia perilu berinteraksi dan saling mengenal. Tentu dalam sebuah interaksi memuat berbagai aspek yang harus diatur sehingga tindakan itu memenuhi kriteria wajar dan terjadi sling pengertian. Salah satu bentuk pengaturan atau pengelolaan kehidupan manusia adalah negara. Dalam hal ini negara merupakan pengejawantahan dari kebutuhan masayarakat akan keteraturan dan perlindungan untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Banyak aspek yang bisa dijadiakn acuan dalam pengelolaan hidup mulai dari tradisi lokal sampai agama. Masing-masing dasar acuan memiliki konsekuensi tersendiri sebagai buah dari nilai filososfi yang dikandungnya. Islam sendiri sebagai agama menitik beratkan pembahasan tentang tata pengelolaan kehidupan masayarakat meliputi dua aspek sekaligus, yaitu makhlu (manusia) dan Tuhan-Nya. Tidak hanya aspek hubungan manusia saja yang penting, namun aspek Ilahiah juga dipandang penting.

Islam melihat bahwa kesmpurnaan dan keteratuaran manusia bukan hanya soal fisik semata, melainkan secara spiritual. Esensi menjadikan munculnya ketenangan dalam diri bukanlah kecukupan jasmani belaka melainkan ruhani juga. Jika ditelisik lebih jauh lagi perlu digaris bawahi ketika membahas mengenai pengelolaan hidup adalah dyn (agama) yang kemudian memiliki turunan kata madinah (negara). Dyn merupakan pengejawantahan dari hubungan manusia dengan Tuhan-Nya, memiliki arti keadaan tunduk menyerahkan diri atau keadaan berhutang. Ketundukan itu merupakan konsekuensi logis bagi yang memiliki hutang (dalam hal ini kepada Allah) untuk mematuhi syarat-syarat pemberi hutang.

Madinah atau negara dalam hal ini juga meliputi aspek ketundukan dan pembayaran hutang kepada Allah SWT. Pembayaran hutang atau ketundukan itu bisa dilakukan melalui jalan menjalankan dan mengikuti segala syariat yang sudah ditetapkan. Pengelolaan kehidupan bermasyarakat, dengan demikian, harus menjamin tegaknya tata cara pembayaran utang kita kepada Allah SWT, yaitu adanya jaminan bagi manusia untuk menjalankan syariat Allah SWT di dalam negara. Kita seharusnya menginsafi bahwa keberadaan kita di dunia tidak hanya untuk mengurusi hubungan kita dengan manusia lainnya, tetapi juga dengan Sang Pencipta. (Dari berbagai sumber/ ZA)





Login Member

Kumpulan Rubrik



Rubrik Hukum
       Konsultasi Hukum
       Pos Pengaduan Publik
Rubrik Agama
       Hikmah
       Kajian Kitab
       Khazanah
       Khotbah
       Tokoh Tokoh Islam
       Konsultasi Agama
       Doa Harian
       Humor
       Kabar Islam
Rubrik Organisasi
       KTA Online
       Konsultasi Organisasi
Rubrik Seni
       Film
       Musik
       Acting
Ruang Usaha
DPLN (LN)
Bela Negara
Teknologi Tepat Guna
Hijabers dan Fashionista
Petiga TV