Logo PPP

DEWAN PENGURUS PUSAT
PARTAI PERSATUAN PEMBANGUNAN

Pertarungan Ideologi dibalik Pemberontakan Houthi di Yaman

08 April 2017 - 15:08:49

Share: Facebook Twitter Google+ WhatsApp Telegram

thumbnail

Letak geografi Yaman berada dijalur ekspor dari Teluk Persia menuju Terusan Suez. Tidak jauh berbeda dengan negara-negara di semenanjung Arab lain yang kaya akan cadangan mineral. Negara Yaman menyimpan cadangan gas alam, serta terdapat 50 kilang Minyak yang tersebar di Yaman. Selain itu, Yaman merupakan negara produsen emas ke-enam didunia. Pada lain sisi, kondisi rakyat Yaman bertolakbelakang dari kemakmuran. Tingkat kemakmuran yang rendah penduduk suatu negara dapat mengakibatkan kerentanan terhadap konflik seperti radikalisme hingga separatisme. Tidak heran, banyaknya pihak asing yang ingin mencengkram Yaman. Namun, apakah faktor ini yang menjadi satu-satunya alasan penyebab eskalasi konflik di Yaman? Mayarakat Yamanpun terdiri dari berbagai macam komposisi. Masyarakat Yaman mayoritas beragama Islam, sebagian kecil beragama Yahudi, Kristen, Hindu dan Bahai. Sementara itu, dari sepertiga warga muslim di Yaman beraliran Syiah Zaidi. Warga yang beraliran Syiah Zaidi tersebut berada disebelah utara dan barat laut Yaman, serta berbatasan langsung dengan Arab Saudi. Kaum Syiah Zaidi meyakini Zaid bin Ali adalah imam mereka. Kaum Syi’ah yang berada disebelah utara Laut Yaman tersebut menamakan dirinya sebagai Houthi, dan kaum Houthi ini melakukan pemberontakan. Houthi mengklaim jika pemberontakan itu untuk memperjuangkan kepentingan rakyat Sa’dah (salah satu provinsi di Yaman Utara). Houthi dengan Iran memiliki kesamaan ideologi, dimana kesamaan merupakan salah satu penguat hubungan mereka. Pada waktu bersamaan, ketika sedang terjadi eskalasi konflik, Iran mengirim kapal perang di teluk aden, dengan dalih melindungi kapal dagangnya dari serangan perampok. Arab Saudi menuding manuver Iran tersebut dilakukan guna menyuplai senjata ke pemberontak Houthi. Pasukan Houthi juga sempat menduduki wilayah jabal Dukhan, Arab Saudi. Meskipun pada akhirnya pasukan dari Negeri Unta tersebut mampu memukul mundur pasukan Houthi. Peristiwa-peristiwa tersebut memperlihatkan jika tujuan Houthi bukan hanya sekedar memperjuangkan kepentingan rakyat Sa’dah atau melakukan separatisme. Peristiwa-peristiwa tersebut semakin menguatkan spekulasi jika Houthi ingin menyebarkan ideologi dan mendirikan negara Syiah. Perang antar saudara di Yaman yang semakin membuat kesejahteraan penduduknya menurun, dengan menyebarnya wabah penyakit dan kelaparan yang melanda memaksa Arab Saudi untuk turun tangan. Sederetan serangan digencarkan ke pemukiman-pemukiman Houthi. Serangan dari Negeri yang dipimpin oleh Raja Salman itu memihak pada Presiden Abdu Rabbo Mansour Hadi, yang notabene Presiden Yaman berkeyakinan Islam Sunni dan diakui secara sah kepemimpinannya oleh dunia. Yaman telah menjadi arena pertarungan antara pemerintah Arab Saudi yang pro pemerintah Yaman yang berdaulat melawan pemberontak Houthi yang disinyalir mendapat dukungan dari Iran. Perebutan sumber daya alam di Yaman bukan alasan kuat bagi Arab Saudi yang mengerahkan armada militernya. Apalagi Arab Saudi merupakan negara Islam yang konservatif, dimana Rasulullah memberikan syarat, bahwa kekuasaan bukanlah tujuan dari politik kaum muslimin. Rasulullah sendiri mencanangkan usaha perbaikan budaya politik atau pelurusan pengelolaan kekuasaan dan menghimbau kaum muslimin terutama ulama dan elite politik untuk menjadi moralis poliitik. (Tiara Nuranisa)



Login Member

Kumpulan Rubrik



Rubrik Hukum
       Konsultasi Hukum
       Pos Pengaduan Publik
Rubrik Agama
       Hikmah
       Kajian Kitab
       Khazanah
       Khotbah
       Tokoh Tokoh Islam
       Konsultasi Agama
       Doa Harian
       Humor
       Kabar Islam
Rubrik Organisasi
       KTA Online
       Konsultasi Organisasi
Rubrik Seni
       Film
       Musik
       Acting
Ruang Usaha
DPLN (LN)
Bela Negara
Teknologi Tepat Guna
Hijabers dan Fashionista
Petiga TV