Logo PPP

DEWAN PENGURUS PUSAT
PARTAI PERSATUAN PEMBANGUNAN

Pewaris Terakhir Visi Maritim Kerajaan di Jawa

05 September 2017 - 20:48:25

Share: Facebook Twitter Google+ WhatsApp Telegram

thumbnail

PPP.OR.ID - Menilik sejarah kerajaan Nusantara kita akan menjumpai imperium maritim yang sangat besar, diantaranya  Sriwijaya dan Majapahit. Ada juga kerajaan-kerajaan kecil yang berdiri dan dikenal sebagai negara maritim dan tidak kalah hebatnya seperti Ternate, Makassar, Aceh dan lain sebagainya. Begitulah nenek moyang kita dapat meraih kejayaan karena memiliki visi geo-strategi, yaitu strategi yang memanfaatkan potensi dari kondisi geografis sebagai batu pijakan dalam menentukan kebijakan politik, ekonomi dan pembangunan.

Sekarang ini tentu dalam benak kita masing-masing akan bertanya, kenapa kecenderungan kita sebagai bangsa dibangun menganut dasar prisnsip agararis. Padahal jika menilik sejarah kejayaan Nusantara ketika kerjaan-kerajan berpegang pada visi maritime. Hilangnya visi geo-strategi terjadi setelah mangkat atau meninggalnya Pati Unus, raja Kerajaan Islam Demak kedua yang menggantikan ayahnya Raden Patah. Ia memerintah dari tauhun 1518 sampai 1521M.

Pati Unus memiliki wawasan tentang geo-strategi dari ayahnya yang memang sangat terobsesi dengan kejayaan Majapahit. Semasa ayahnya mendirikan kejaan Islam Demak dan memerintah, Pati Unus atau Raden Abdul Qadir bin Yunus dipercaya sebagai panglima perang. Sejak muda Ia telah terbiasa menyusun strategi dan mengukur kekuatan lawan. Kepiawaiaannya ini bukan semata-mata untuk mewujudkan obsesi ayahnya, tetapi juga dalam rangka belajar.  Ia bahkan  meniru stategi Majapahit dengan menjalin aliansi dengan kerjaan-kerajaan Islam di Jawa. Bukan merupakan sebuah hal sulit itu dilakukan, karena Kesultanan yang ada seperti Cirebon dan banten masih memiliki pertalian darah sebagaimana umumnya raja-raja Islam jaman dahulu.

Seiring waktu kemampuan perang Pati Unus semakin teruji, apalagi ketika dia ditunjuk sebagai panglima Armada laut gabungan dan kemudian menjadi raja Demak. Ia juga gigih menjalin aliansi termasuk juga dengan kerajaan Palembang dan Makssar. Demi mewujudkan cita-cita kakek dan ayahnya merebut Malaka, dia mempersiapakan dengan matang. Ditengah-tengah persiapan itu Porugis ternyata lebih dulu menguasai Malaka. Dalam kondisi demikian, Pati Unus yang terhitung masih muda naik darah dan mengutus pasukan untuk menyarang Portugis. Penyerangan ini adalah sisat mengukur kekuatan lawan. Benar saja pasukan yang diutus kalah, melihat kondisi dan laporan dari pasukan yan berhasil pulang Ia berkesimpulan untuk menyerang Portugis harus menggunakan kekuatan penuh.

Aliansi militer yang dia miliki ia manfaatkan, Palembang menjanjikan bantuan pasukan dan Makassar membantu pembuatan kapal perang dengan jumlah 375 buah di Gowa. Seteklah bertahun-tahun kapal pun selesai dibuat, tepatnya tahun 1521 M. Pati Unus akhirnya membuat keputusan memimpin sendiri pasukan untuk menyerang Malaka yang dikuasai Portugis. Ia berangkat dengan pasukan penuh, pertempuran terjadi selama tiga hari tiga malam dengan desinagn peluru meriam silih berganti. Korban berjatuhan dari kedua belah pihak, Pati Unus pun mati syahid dan inilah yang menjadi titik balik sejarah kerajaan Jawa tidak lagi memiliki visi maritim.

Sultan Trenggono adik Pati Unus kemudian menggantikan menjadi raja Demak, ternyata lebih berorientasi ke dalam negeri. Ketika jabatan Panglima Gabungan Armada Laut dipegang Fatahillah atau Jayakarta yang juga menatu Sultan Trenggono berhasil mengusir Portugis. Pasca itu Kesultanan Demak jatuh akibat perlawanan Arya Penangsang. Meskipun pada akhirnya Arya Penangsang juga mati di tangan Joko Tingkir yang dibantu Ki Ageng Pemanahan. Sebagai ucapan terimakasih Joko Tinggkir atau Sultan Hadiwijaya memberikan hadiah tanah perdikan. Tanah ini yang kemudian menjadi cikal bakal berdirinya Mataram yang didirikan putranya Sutawijaya dengan gelar Panembahan Senopati ing Alaga Sayidin Panatagama Khalifatullah Tanah Jawa.

Kerajaan Mataram inilah kemudian lebih dikenal dengan kerajaan agraris menjadi kerajaancukup besar. Tentu , hal tersebut mempengaruhi pola pikir dan hidup masayarakat didaerah kekuasaannya. Perhatian terhadap maritime atau geo-strategis sangat jauh dibandingkan Demak. Lambat laun budaya maritime di Nusantara juga ikut terkikis. Hal itu ditambah lagi  ketika Belanda menjajah Nusantara yang memustkan kekuasan kolonialismenya di Batavia juga menerapkan politik tanam paksa dan lain sebaginya yang juga berorientasi pada sector agraris juga.

Ketika perjuangan kemerdekaan berhasil membentuk negara Indonesia, negara kemudian dikelola dengan cara-cara peninggalan Belanda dan mentok pada cara-acar Majapahit. Hilang sudah visi maritime yang pernah mengantarkan pada kejayaan dimasa lampau. Meskipun ada beberapa pihak yang tengah berusaha mengembalikan kejayaan maritim, itu masih jauh dari kata ideal. Sebab harus disadari cara pandang yang dipakai untuk membangun dan memandang laut dengan kacamata darat. Kacamata warisan agraris yang telah diwariskan secara turun temurun. Seaharusnya laut diposiskan sebagai titik pandang orientasi utama pembangunan. Selanjutnya sejarah aka nada ditangan para penerus bangsa, penerus perjuangan Pati Unus raja jawa pewaris terakhir geo-strategi. (Dari berbagai sumber/ ZA)





Login Member

Kumpulan Rubrik



Rubrik Hukum
       Konsultasi Hukum
       Pos Pengaduan Publik
Rubrik Agama
       Hikmah
       Kajian Kitab
       Khazanah
       Khotbah
       Tokoh Tokoh Islam
       Konsultasi Agama
       Doa Harian
       Humor
       Kabar Islam
Rubrik Organisasi
       KTA Online
       Konsultasi Organisasi
Rubrik Seni
       Film
       Musik
       Acting
Ruang Usaha
DPLN (LN)
Bela Negara
Teknologi Tepat Guna
Hijabers dan Fashionista
Petiga TV