Logo PPP

DEWAN PIMPINAN PUSAT
PARTAI PERSATUAN PEMBANGUNAN

Pondok Pesantren Al Kahfi Somalangu

06 Agustus 2017 - 13:51:11 | 2279

Share: Facebook Twitter Google+ WhatsApp Telegram

thumbnail

Pondok Pesantren Al-Kahfi Somalangu terletak di Kebumen, Jawa Tengah. Bukti otentik dari sejarah berdirinya pesantren Al Kahfi Somalangu bisa diketahui dari tulisan pada Prasasti Batu Zamrud Siberia (Emerald Fuchsite) yang terdapat di dalam masjid Al Kahfi yang ada di komplek pesantren. Prasasti pada batu zamrud tersebut bertuliskan huruf Jawa dan Arab, dimana untuk huruf Jawa sebagai “candra sengkala” dengan kalimat “Bumi Pitu Ina” sebagai tanda dari tahun berdirinya. Sedangkan tulisan dalam huruf Arab merupakan penjabaran dari candra sengkala, dimana angka tanggal yang tertera dengan huruf hijaiyah adalah “25 Sya’ban 879 H” atau pada kalender Masehi sama dengan hari Rabu, tanggal 4 Januari, tahun 1475.

Hingga saat ini pondok pesantren yang berjarak 1,5km dari jalan Raya Kebumen-Kutoarjo tersebut masih bertahan dan menjadi pusat pendidikan Islamiyah. Pendiri ponpes ini yakni Syekh As-Sayid Abdul Kahfi Al Hasani seorang ulama dari Hadramaut, Yaman. Beliau mendarat di Pantai Karang Bolong, Kebumen, kemudian beliau berhasil mengislamkan penduduk di Desa Candiwulan, dan Candimulyo. Pada sebelumnya, penduduk didesa-desa tersebut beragama Hindu, yang masing-masing dipimpin Resi Dara Pundi, Resi Candra Tirto, dan Resi Dhanu Tirto.

Sebelum mendirikan Pondok pesantren Somalangu, Syekh Al-Kahfi turut membantu Sunan Ampel dalam berdakwah, serta mendidik Ja’far As Shadiq sebelum menjadi Sunan Kudus. Sementara lokasi dari pondok pesantren Somanlangu merupakan tanah yang diberikan oleh Raden Fatah kepada Syekh Al-Kahfi, karena Syekh Al-Kahfi berhasil meredam konflik yang terjadi kala itu.

Bangunan pertama yang didirikan pada pondok pesantren tersebut yakni berupa masjid. Setelah mendirikan masjid Syekh Al Kahfi baru membangun rumah tinggal disebelah utara masjid. Pada awalnya masjid di pesantren tersebut dibuat dengan ukuran 9 x 9 meter, konon saat pertama kali dibuat bagian atap masjid ini menggunakan daun ilalang yang selalu mengeluarkan bau wangi. Keunikan lain yang masih ada dari masjid tua terdapat pada bagian kubah atau mustaka masjid yang terbuat dari lempung atau tanah liat, dan tertulis angka 1299 H, sedangkan pada bagian genteng terdapat tulisan dalam bahasa Belanda yaitu  “Aboeng Amar Steen en Pannenfabriek Sokka.”

Seperti pesantren-pesantren lain yang mengalami kevakuman saat zaman perjuangan kemerdekaan, begitu pula dengan pondok pesantren ini. Para santri dan Kyainya turut berpartisipasi dalam perjuangan kemerdekaan, bahkan pesantren ini menjadi basis perjuangan. (dari berbagai sumber/tran)





Login Member

Kumpulan Rubrik



Rubrik Hukum
       Konsultasi Hukum
       Pos Pengaduan Publik
Rubrik Agama
       Hikmah
       Kajian Kitab
       Khazanah
       Khotbah
       Tokoh Tokoh Islam
       Konsultasi Agama
       Doa Harian
       Humor
       Kabar Islam
Rubrik Organisasi
       KTA Online
       Konsultasi Organisasi
Rubrik Seni
       Film
       Musik
       Acting
Ruang Usaha
DPLN (LN)
Bela Negara
Teknologi Tepat Guna
Hijabers dan Fashionista
Petiga TV