Logo PPP

DEWAN PIMPINAN PUSAT
PARTAI PERSATUAN PEMBANGUNAN

PPP Sebut, Jokowi Butuh Figur Agamis dan Berjiwa Muda

13 Maret 2018 - 20:19:53 | 141

Share: Facebook Twitter Google+ WhatsApp Telegram

thumbnail

PPP.OR.ID - Presiden Joko Widodo semakin mantap untuk melenggang di Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 mendatang. Hal ini diketahui, setelah Jokowi resmi diusung kembali oleh partainya.

Kendati beberapa partai sudah bergerak turut serta koalisi mengusung Jokowi, termasuk Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Namun, sampai saat ini Jokowi belum mengumumkan siapa calon pendamping beliau nantinya.

Sementara itu, Wakil Sekretaris Jenderal PPP Achmad Baidowi menuturkan, kriteria yang cocok mendampingi Jokowi di Pilpres 2019 nanti adalah sosok agamis.

“Jokowi butuh figur agamis. Hal ini diperlukan karena figur agamis bisa menangkis ujaran kebencian yang bernuansa SARA. Sehingga, keberadaan sosok agamis disamping Jokowi, akan membuat lawan yang melabelinya anti-Islam tidak memiliki ruang,” ujar Achmad Baidowi.

Selain itu, menurut Anggota Komisi II DPR-RI Fraksi PPP menyebut, bahwa Figur agamis mampu mengurangi ujaran kebencian bernuansa SARA, karena lawan-lawan politik beliau masih selalu melabeli Pak Jokowi dengan merek-merek anti-Islam, pro komunis dan pro-RRC.

Meskipun, tambah Achmad Baidowi, figur se-agamis apa pun memang tidak akan serta-merta menghilangkan ujaran kebencian. Namun, setidaknya dapat meminimalisirnya. Beliau juga mewanti-wanti, sosok yang dipilih harus benar-benar agamis, bukan figur non-agamis yang diagamiskan.

Selain figur agamis, sambung Achmad Baidowi, kriteria pendamping Jokowi juga harus memiliki jiwa muda. Hal ini diperlukan untuk merebut suara para pemilih pemula.

“Jokowi perlu figur yang memahami kaum milenial. Mengingat 39% pemilih pada 2019 berusia di bawah 40 tahun. Cawapres dari kalangan muda menjadi sangat diperlukan. Karena mereka memiliki selera, gimmick dan gaya komunikasi yang berbeda dengan generasi baby boomers,” lanjut beliau.

Terlebih, beliau menilai, Jokowi perlu figur yang memiliki pengalaman dan kompetensi intelektual menghadapi disrupsi ekonomi, transformasi digital dan persaingan di era revolusi industri. Bila yang dipilih hanya figur populis belaka namun nihil kapasitas, maka akan menjadi persoalan jika nantinya terpilih.

“Maka pengalaman intelektual mengelola jabatan publik baik di eksekutif atau legislatif menjadi perlu,” pungkas beliau. (Ch)





Login Member

Kumpulan Rubrik



Rubrik Hukum
       Konsultasi Hukum
       Pos Pengaduan Publik
Rubrik Agama
       Hikmah
       Kajian Kitab
       Khazanah
       Khotbah
       Tokoh Tokoh Islam
       Konsultasi Agama
       Doa Harian
       Humor
       Kabar Islam
Rubrik Organisasi
       KTA Online
       Konsultasi Organisasi
Rubrik Seni
       Film
       Musik
       Acting
Ruang Usaha
DPLN (LN)
Bela Negara
Teknologi Tepat Guna
Hijabers dan Fashionista
Petiga TV