Logo PPP

DEWAN PIMPINAN PUSAT
PARTAI PERSATUAN PEMBANGUNAN

Sejarah Panjang Perjanjian Gianti Pembagian Dua Kekuasaan Menjadi Surakarta dan Yogyakarta

21 Agustus 2017 - 17:53:43 | 1491

Share: Facebook Twitter Google+ WhatsApp Telegram

thumbnail

Sejarah berdirinya Kesultanan mataram, berawal dari  pemberian hadiah oleh Sultan Pajang, Hadiwijaya kepada anak angkatnya yang bernama Ki Ageng Pemanahan berkat jasanya yang telah mengalahkan pemberontakan Arya Penangsang. Tanah perdikan itu sekarang bertempat di sekitar Yogyakarta, Sepeninggal Ki Ageng Pemanahan (Mas Ngabehi Loring Pasar) tahun 1584, Sultan Pajang mengangkat Sutawijaya sebagai pengganti ayahnya Ki Ageng Pemanahan. Yang kemudian bergelar Panembahan Sinopati, dan pada tahun 1588 tanah pemberian Sultan Pajang resmi menjadi Kesultanan Mataram dibawah pimpinan Panembahan Senopati ing Alaga Sayidin Panatagama Khalifatullah Tanah Jawa.

Pada masa akhir pemerintahan Panembahan Sinopati, Belanda pertama kali mendaratkan diri di Nusantara dibawah pimpinan Cornelis de Houtman pada Pada bulan April 1595 Mereka mendarat di pelabuhan Banten. Kedatangan Belanda ke Nusantara ini adalah dengan tujuan perdagangan yang ditandai dengan, berdirinya Verenigde Oost-Indische Compagnie - VOC (Perkumpulan Dagang India Timur) Pada 20 Maret 1602. yang di kepalai oleh Francois Wittert.

Setelah mangkatnya Panembahan Senopati tahun 1601, kepemimpinan diambil alih putranya bernama Mas Jolang yang bergelar Panembahan Hanyokrowati atau, Panembahan Seda ing Krapyak. Panembahan Hanyokrowati memimpin Kasultanan Mataram relatif tidak lama lantaran meninggal muda dikarenakan kecelakaan saat berburu.

Kepemimpinan kemudian beralih pada anak keempat Mas Jolang yang bergelar Adipati Martoputro. Ternyata Adipati Martoputro menderita penyakit syaraf sehingga tahta beralih ke putra sulung Mas Jolang pada tahun 1613 yang bernama Mas Rangsangpada yang kemudian bergelar Prabu Pandita Hanyokrokusumo atau lebih dikenal dengan sebutan Sultan Agung Senapati Ingalaga Abdurrahman. Dibawah pimpinan Anak Muda bernama Sultan Agung inilah Mataram berada pada titik keemasannya. Yang bersama-sama Kasultanan Banten dan Kasultanan Cirebon mengusir Belanda dari Batavia.

Ketidak stabilan politik mulai terasa semenjak tahun 1645, ketika Raden Mas Sayidin, putra Sultan Agung naik tahta mengantikan kedudukan ayahnya, dan mendapat gelar Susuhunan Ing Alaga. Pada tahun 1646 Mas Syaidin secara resmi dinobatkan sebagai raja Mataram dan bergelar Amangkurat I.

Amangkurat I diwarisi oleh ayahnya kekuasaan yang besar sayangnya tidak diimbangi dengan kearifan dan kebijakan yang baik. Amangkurat I menerapkan sentralisasi atau sistem pemerintahan terpusat. Amangkurat I juga menyingkirkan tokoh-tokoh senior yang tidak sejalan dengan pandangan politiknya. Benih-benih ini kemudian memunculkan pemberontakan dimana-mana, termasuk adik kandung beda ibu. Yaitu Raden Mas Alit. menantu Panembahan Rama, Raden Trunojoyo. Mas Rahmat, anak kandung Amangkurat I dari  Ratu Kulon putri Pangeran Pekik atau permaisuri pertama sendiri.dll. Bahkan dikisahkan Amangkurat I juga membunuh 5000 ulama di alun-alun Plered, depan Keraton Kerajaan karena perbedaan pandangan politik.

Pemberontakan Trunojoyo yang dibantu oleh Sultan Hasanuddin Makasar merupakan babak bersejarah berakhirnya Kasultanan Mataram. Amangkurat I dan Raden Rahmat mengungsi didaerah tegal, Amangkurat I meninggal disana sehingga tempat pesareannya di namakan Tegalarum. Setelah Pangeran Trunojoyo menjarah harta pusaka keraton Mataram ia kemudian kembali ke Kediri. Pada saat itulah Pangeran Puger kembali ke Plered, dari persembunyiaannya di desa Jenar. Pangeran Pugger kemudian membangun istana baru bernama Kerajaan Purwakanda dan mengangkat dirinya sebagai Raja bergelar Susuhunan Ingalaga.

Raden Mas Rahmat yang mengungsi ke Tegal dengan ayahnya, dalam pengungsian Amangkurat I jatuh sakit dan kemudian meninggal, dalam Babad tanah Jawi disebutkan, kematian Amangkurat I karena air kelapa beracun pemberian Mas Rahmat. Meski demikian, ia tetap menunjuk Mas Rahmat sebagai raja selanjutnya, tetapi disertai kutukan bahwa keturunannya kelak tidak ada yang menjadi raja, kecuali satu orang dan itu pun hanya sebentar.

Tahun 1677 Raden Mas Rahmat resmi bergelar Sri Susuhunan Amangkurat II, juga sekaligus Raja pertama Kasunanan Surakarta, karena Plered sudah hancur Berantakan akibat pemberontakan Trunojoyo. Sebelum Amangkurat II naik tahta, Amangkurat I telah berpesan agar kelak bekerjasama dengan VOC untuk mengalahkan Trunojoyo, dan adiknya sendiri, Pangeran Pugger yang lahir dari Ratu Wetan atau permaisuri kedua. Ibunya tersebut berasal dari Kajoran, yaitu sebuah cabang keluarga keturunan Kesultanan Pajang, yang telah mendirikan Kerajaan baru bernama Purwakanda di Plered.

Pada bulan September 1677 diadakanlah perjanjian di Jepara antara Amangkurat II dengan Pihak VOC yang diwakili Cornelis Speelman. Daerah-daerah pesisir utara Jawa mulai Kerawang sampai ujung timur di Panarukan digadaikan kepada VOC sebagai jaminan pembayaran atas biaya perang melawan Trunajaya. Pada tanggal 2 Januari 1680 Amangkurat II menghukum mati Trunajaya dengan tangannya sendiri.

Sepeninggal Amangkurat II tahun 1702 M, kepemimpinan Keraton Kertosuro jatuh pada Amangkurat III, yang bernama asli Raden Mas Sutikna, sehingga terjadilah perbutan kekuasaaan antara Pangeran Puger dengan putra mahkota, yaitu Amangkurat III, karena telah diyakini sebelumnya bahwa  wahyu keprabon jatuh kepada Pangeran Puger.

Karena dukungan dan simpatisan Pangeran Puger semakin banyak, membuat Amangkurat III mengurungnya sekeluarga untuk dibunuh, namun sebelum sempat dibunuh Pangeran Puger berhasil melarikan diri ke Semarang pada tahun 1704, disana dengan dukungan VOC  tentu saja dengan syarat-syarat yang menguntungkan Belanda. Isi Perjanjian Semarang yang terpaksa ditandatangani Pangeran Puger antara lain penyerahan wilayah Madura bagian timur kepada VOC. Ia pun kemudian mengangkat dirinya sebagai raja bergelar Susuhunan Paku Buwana Senapati Ingalaga Ngabdurahman Sayidin Panatagama Khalifatulah Tanah Jawa (Pakubuwono I) Setelah itu Gabungan pasukannya bergerak tahun 1705 untuk merebut Kartasura. Peperangan ini disebut sebagai Perang Suksesi Jawa I. dan tepatnya pada tanggal 17 September 1705, takhta Kartasura dibawah pimpinan Amangkurat III resmi  jatuh ke tangan Pakubuwana I.

Pengganti Amangkurat II adalah Amangkurat III (1703-1708), kemudian digantikan Pakubuwana I (1704-1719), selanjutnya Amangkurat IV (1719-1726), dan Pakubuwana II (1726-1749). VOC tidak menyukai Amangkurat III karena menentang VOC sehingga VOC mengangkat Pakubuwana I (Puger) sebagai raja. Akibatnya Mataram memiliki dua raja dan ini menyebabkan perpecahan internal. Amangkurat III memberontak dan menjadi "king in exile" hingga tertangkap di Batavia lalu dibuang ke Sri Langka.

 

 

Semenjak kedatangan Belanda pertama kali dengan serikat dagangnya (VOC) sampai masa awal kepemimpinan Pakubuwono I. 1705 M, sudah tercatat 111 kali perjanjian yang disepakati dengan Kerajaan Mataram, tapi itu semua masih sebatas pada perjanjian dagang.  Smapai kemudian Pemerintahan Pakubuwana I dihadapkan pada perjanjian baru dengan VOC sebagai pengganti perjanjian lama yang pernah ditandatangani Amangkurat II. Perjanjian lama tersebut berisi kewajiban Kartasura untuk melunasi biaya perang Trunajaya sebesar 4,5 juta gulden. Sedangkan perjanjian baru berisi kewajiban Kartasura untuk mengirim 13.000 ton beras setiap tahun selama 25 tahun.

Setelah mangkatnya Sunan Pakubuwana I pada tahun 1719. Yang menggantikan sebagai raja Kartasura selanjutnya adalah putranya, yang bergelar Amangkurat IV. Pemerintahan Amangkurat IV ini selain diwarisi hutang perjanjian dengan VOC dari leluhur-leluhurnya juga dihadapkan pada pemberontakan saudara-saudaranya sesama putra Pakubuwana I, antara lain Pangeran Blitar, Pangeran Purbaya, dan Pangeran Dipanegara Madiun. Perseteruan dan perang saudara ini kemudian dikenal dengan Perang Suksesi Jawa II,  yang kemudian menjadi penyebab rakyat Jawa terpecah belah. Sebagian memihak Amangkurat IV yang didukung VOC, sebagian memihak Pangeran Blitar, sebagian memihak Pangeran Dipanegara Madiun, dan sebagian lagi memihak Pangeran Arya Mataram.

Perseteruan Amangkurat IV akhirnya bisa diredam dan Kaum pemberontak dapat ditangkap satu persatu dengan batuan VOC, menjelang akhir masa pemerintahan Raden Mas Suryaputra ini, berselisih dengan Cakraningrat IV bupati Madura, yang meyakini bahwa Madura akan lebih makmur jika berada di bawah kekuasaan VOC daripada Kartasura yang dianggapnya bobrok. Namun perseteruan itu berakhir dengan diambilnya Cakraningrat IV sebagai menantu Amangkurat IV. Amangkurat IV semenjak Maret 1726 mengalami sakit karena diracun dan kemudian meninggal dunia pada tanggal 20 April 1726.

Tongak estafet kepemimpinan Kasunaanan Kertasuro berlanjut pada putranya (Amangkurat IV ) yang baru berusia 15 tahun bergelar Pakubuwana II, bernama asli Raden Mas Prabasuyasa dari permaisuri keturunan Sunan Kudus. Ia dilahirkan pada tanggal 8 Desember 1711.  Pakubuwana II naik takhta tanggal 15 Agustus 1726 dalam usia 15 tahun. Karena masih sangat muda, beberapa tokoh istana bersaing untuk menguasainya.

Pada masa Pakubuwono II ini perjanjian yang ke 112 dan seterusnya kembali disepakati. Perjanjian kali ini mulai menginjak lapangan politik. Salah satunya perjanjian yang tanda tangani oleh Pakubuwono II pada tanggal 18 Mei 1746 yang berisi antara lain, Pulau Madura seluruhnya dan pesisir Utara sejak saat itu menjadi milik VOC. Disamping itu Pakubuwono II bersedia memberikan bantuan sekuat tenaga bila diminta Belanda untuk menindas anasir-anasir yang bisa merugikannya. Perjanjian lain yang ditandatangani pada tanggal 11 Desember 1749 ini sebagai titik awal hilangnya kedaulatan Kasunanan Surakarta ke tangan Belanda. Sejak itu, hanya VOC yang berhak melantik raja-raja Surakarta.

Perjanjian-perjanjian tersebut diteken oleh Pakubuwono II sebagai politik balas budi dan politik perjanjian karena VOC telah membantu  dalam melawan pemberontakan-pemberontakan yang dilakukan oleh etnis Tionghoa di pesisir Utara, yang sebenarnya juga manipulasi dari Belanda. Atau perlawanan R M Said CS, bergelar Pangeran Samber Nyawa putra dari Pangeran Mangkunegara yang di asingkan ke Srilangka. Pemberontakan Pangeran Samber Nyawa tersebut didasari atas dominasi Belanda yangg semakin kuat dalam tubuh Keraton.

Perjuangan R.M. Said dimulai bersamaan dengan pemberontakan laskar Tionghoa di Kartosuro pada 30 Juni 1742 yang dipimpin oleh Raden Mas Garendi (juga disebut "Sunan Kuning"), mengakibatkan tembok benteng kraton Kartasura setinggi 4 meter roboh. Pakubuwono II, Raja Mataram ketika itu melarikan diri ke Ponorogo, kemudian meminta bantuan Belanda agar Keraton Kertasura direbut kembali dari tangan pemberontak, setelah para pemberontak berhasil ditangkap. Pada bulan November 1743 Pakubuwana II kembali ke Kartasura. Permintaan bantuan oleh Pakubuwono II kepada Belanda ini juga menambah banyak daftar perjanjian dan semakin memberatkan.

Hal inilah yang membuat Pangeran Mangkubumi ingin melepaskan diri dari jeratan VOC, dengan memberontak dari Keraton Surakarta, pasca hancurnya istana Kartasura, setelah itu seluruh pusat kekuasaan Pakubuwono II di pindahkan ke Surakarta pada tahun 1745. Selain karena dominasi Belanda yang kian menguat dan terus mendikte kebijakan Keraton, sehingga Keraton kehilangan kesuciannya dan marwah, juga karena rasa patah hati Mangkubumi terhadap pembatalan pemberian hadiah berupa tanah yang dijanjikan setelah mengalahkan Pangeran Samber Nyawa CS.

Akhirnya Pangeran Mangkubumi menghimpun kekuatan dengan Pangeran Hadiwijoyo, Pangeran Wijil II, Pangeran Krapyak dan lain-lain pahlawan, memilih meninggalkan Surakarta pada tanggal 19 Mei 1746, sehari setelah di tekennya kontrak perjanjian baru yaitu pemberian hadiah pulau Madura dan sekitarnya pada VOC.

Semenjak itu keadaan Keraton Surakarta semakin sulit, terutama setelah Pangeran Mangkubumi dapat mengabungkan diri dengan barisan-barisan yang dipimpin Pangeran Samber Nyawa dan Pangeran Martapura. Sementara para pemberontak melakukan ekspansi kekuasaanya, di dalam Keraton Surakarta telah terjadi peristiwa yang sangat menyedihkan, terutama bila dipandang dari sudut kemerdekaan suatu bangsa.

Tepat tanggal 11 Desember  1749 Sri Susushunan Pakubuwono II  dalam keadaan sakit keras dan mendekati mangkatnya, Van Hohendorff telah berhasil memaksanya untuk menandatangani perjanjian penyerahan Negara Mataram seluruhnya kepada Kompeni, hanya dengan syarat keturunan Raja yang berhak menjadi raja akan dinobatkan sebagai Raja Surakarta oleh Belanda.

Berita penyerahan Negara ini kemudian sampai pada Pangeran Mangkubumi CS, maka semakin menyalalah tekadnya untuk mengusir Kompeni dari Jawa, dengan turun tahtanya Pakubuwono II berarti Mataram berada dalam kekosongan kepemimpinan,  sehingga Pihak pemberontak akhirnya mengangkat Mangkubumi sebagai raja dan Mas Said sebagai patih tanggal 12 Desember 1749 di Desa Kebanaran, letaknya disekitan timur sungai Progo.

Setelah peristiwa pengangkatan Pangeran Mangkubumi di Desa Kebanaran. di Surakarta pada tanggal 15 Desember 1749  Raden Mas Suryadi berhasil dilantik oleh Belanda sebagai Pakubuwana III mengantikan ayahnya, kemudian melanjutkan Perang Suksesi Jawa III menghadapi perlawanan Pangeran Mangkubumi dan Raden Mas Said yang telah meletus sejak tahun 1746.

Setelah bertahun-tahun terjadi pergolakan perang saudara, akhirnya berkat saran Belanda yang memahami kelemahan Surakarta dalam menghadapi perlawanan Pangeran Mangkubumi CS, mengajukan usulan pada Pakubuwono III untuk menghentikan peperangan, dengan alasan peperangan yang terjadi mengakibatkan kerusakan dan penderitaan rakyat, pola pikir seperti ini kemudian diterima dengan baik oleh kedua belah pihak.

Bertepatan dengan hari Kamis Kliwon tanggal 29 Rabiul Akhir, atau 13 Februari 1755, perjanjian pemberhentian perang ditandatangani. Perjanjian itu disebut “Perjanjian Gianti” atau “Palihan Negari”, karena telah dilaksanakan di Desa Gianti, salah satu Desa di daerah Salatiga. Dan isi perjanjian tersebut berupa pembelahan kekuasaan Mataram menjadi dua yaitu satu dibawah kendali Sri Susuhunan Pakubuwono III, dengan Ibu Kota di Surakarta dan satunya lagi di bawah pimpinan Sri Susuhunan Kabanaran atau Pangeran Mangkubumi, yang semenjak saat itu berganti gelar menjadi Hamengkubuwono I, Senopati Ing Alaga Abdurahman Sayidin Panatagama Khalifatullah I, yang beribu Kota di Yogyakarta. Demikian secuil kisah tentang pecahnya sebuah negara karena ulah campur tangan dan rekayasa Belanda. (Berbagai Sumber/ Dze)





Login Member

Kumpulan Rubrik



Rubrik Hukum
       Konsultasi Hukum
       Pos Pengaduan Publik
Rubrik Agama
       Hikmah
       Kajian Kitab
       Khazanah
       Khotbah
       Tokoh Tokoh Islam
       Konsultasi Agama
       Doa Harian
       Humor
       Kabar Islam
Rubrik Organisasi
       KTA Online
       Konsultasi Organisasi
Rubrik Seni
       Film
       Musik
       Acting
Ruang Usaha
DPLN (LN)
Bela Negara
Teknologi Tepat Guna
Hijabers dan Fashionista
Petiga TV