Logo PPP

DEWAN PIMPINAN PUSAT
PARTAI PERSATUAN PEMBANGUNAN

Suara Lantang Indonesia Untuk Kemerdekaan Palestina

27 Juli 2017 - 14:31:02 | 1891

Share: Facebook Twitter Google+ WhatsApp Telegram

thumbnail

PPP.OR.ID - Peristiwa penutupan masjid Al-Aqsa dan pemasangan kamera serta alat pendeteksi logam oleh Israel memicu kemarahan berbagai pihak. Mulai dari Negara - Negara liga Arab sampai dengan Indonesia, ini mengingat bahwa sudah sejak dulu Indonesia memiliki keterkaitan sejarah dengan Palestina. Selain itu perasaan sepenanggungan Indonesia sebagai Negara dengan penduduk muslim juga menjadi  penguat dari kepedulian akan nasib bangsa Palestina.

Negara Indonesia yang memang menghargai kebebasan dan kemerdekaan sebuah bangsa melihat Palestina sedang dizalimi oleh Israel. Indonesia sejak awal tidak mau mengakui Israel yang diproklamasikan David Ben-Gurion pada 14 Mei 1948, karena merampas tanah rakyat Palestina. Ucapan selamat dan pengakuan kemerdekaan Indonesia yang dikirimkan Presiden Israel Chaim Weizmann dan Perdana Menteri Ben Gurion tak pernah ditanggapi serius pemerintah Indonesia. Mohammad Hatta hanya mengucapkan terimakasih, namun tak menawarkan timbal-balik dalam hal pengakuan diplomatik. Sukarno juga tak menanggapi telegram ucapan selamat dari Israel.

Sejak awal, Indonesia bersikap sangat bermusuhan terhadap Israel dan menolak menjalin hubungan dengan Israel. Presiden Indonesia Soekarno mengutuk keras agresi Israel terhadap negara-negara Arab dan mendukung negara-negara Arab dalam perjuangan mereka melawan Israel.

Sewaktu Soekarno mulai menggagas Konferensi Asia-Afrika (KAA) pada 1953, Indonesia dan Pakistan menolak keras diikutsertakannya Israel dalam konferensi tersebut. Keikutsertaan Israel bakal menyinggung perasaan bangsa Arab, yang kala itu masih berjuang memerdekakan diri. Sementara Israel adalah bagian dari imperialis yang hendak dienyahkan Sukarno dan pemimpin-pemimpin dunia ketiga lainnya.

Dalam pidato pembukannya di KAA pada 1955 yang juga dihadiri pejuang Palestina Yasser Arafat, Sukarno menyatakan bahwa kolonialisme belum mati, hanya berubah bentuknya. Neokolonialisme itu ada di berbagai penjuru bumi, seperti Vietnam, Palestina, Aljazair, dan seterusnya.

“Imperialisme yang pada hakikatnya internasional hanya dapat dikalahkan dan ditundukkan dengan penggabungan tenaga antiimperialisme yang internasional juga,” ujar Sukarno dalam pidato hari ulangtahun Republik Indonesia ke-21 pada 17 Agustus 1966, sebagaimana dimuat dalam Revolusi Belum Selesai.

Ketika Sukarno lengser dan digantikan oleh Soeharto, suara Indonesia mendukung kemerdekaan Palestina tak pernah surut. Pun begitu sampai sekarang ini yang sudah merupakan kepemimpinan kepala Negara yang ke tujuh. Indonesia tetap berkomitmen dan lantang menyuarakan dukungan kemerdekaan Pelestina serta mengutuk sikap represif Israel. (Dari berbagai sumber/ ZA)





Login Member

Kumpulan Rubrik



Rubrik Hukum
       Konsultasi Hukum
       Pos Pengaduan Publik
Rubrik Agama
       Hikmah
       Kajian Kitab
       Khazanah
       Khotbah
       Tokoh Tokoh Islam
       Konsultasi Agama
       Doa Harian
       Humor
       Kabar Islam
Rubrik Organisasi
       KTA Online
       Konsultasi Organisasi
Rubrik Seni
       Film
       Musik
       Acting
Ruang Usaha
DPLN (LN)
Bela Negara
Teknologi Tepat Guna
Hijabers dan Fashionista
Petiga TV