Logo PPP

DEWAN PIMPINAN PUSAT
PARTAI PERSATUAN PEMBANGUNAN

Sultan Baabullah, Sang Penakhluk dan Penguasa 72 Pulau

31 Mei 2017 - 12:16:19 | 2946

Share: Facebook Twitter Google+ WhatsApp Telegram

thumbnail

PPP.OR.ID - Jauh sebelum terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia, kerajaan-kerajaan telah berdiri dengan corak dan sistem pemerintahannya sendiri. Kesultanan Ternate adalah satu kerajaan itu, yaitu kerajaan yang mejadikan Islam sebagai dasar nilai dan fondasinya. Adalah Sultan Baabullah, penguasa Kesultan Ternate yang mashur disebut sebagai sang penakhluk, bahkan ada yang mensejajarkan nemanya dengan Salahudin Al-Ayubi.

Sultan Baabullah merupakan putera Sultan Khairun yang lahir pada 10 Februari 1528 M. Ibunya adalah permaisuri Boki Tanjung, puteri Sultan Alauddin I dari Bacan. Sultan Babullah merupakan sultan dan penguasa Kesultanan Ternate ke-24 sepeninggala ayahnya yang berkuasa antara tahun 1570 - 1583. Sultan Baab dikenal sebagai sultan Ternate dan Maluku terbesar sepanjang sejarah, karena berhasil mengalahkan Portugis. Ia berhasil mengantarkan Ternate ke puncak keemasan di akhir abad ke-16.

Pada masa kepemimpinannya Sultan Baabullah mamapu melebarkan kekuasaannya hingga 72 pulau berpenghuni yang meliputi pulau–pulau di nusantara bagian timur, Mindanao selatan dan kepulauan Marshall. Beliau juga menyebarkan Islam di daerah-daerah tersebut setelah mengusir penjajah Portugis.

Masa kecil Sultan Baabullah banyak diisi dengan belajar ilmu agam sekaligus ilmu perang. Ia dan saudra-saudranya digembleng oleh para mubalig dan panglima atas perintah ayahnya. Maka tidak heran ketika menganjak remaja ia telah turut serta mendampingi ayahnya dalam menjalankan urusan pemerintahan dan kesultanan.

Ketika pecah perang Ternate–Portugis yang pertama (1559-1567), Baabullah menjadi salah satu putra Sultan Khairun yang diutus untuk menjadi panglima perang. Ia tampil menjadi pangliam perang yang cakap dan berhasil mempersembahkan kemenangan bagi ternate. Portugispun terdesak dan menawarkan perundingan.

Pada tanggal 25 Februari 1570 M, Sultan Khairun meninggal dibunuh ketika menghadiri jamuan makan yang diadakan oleh Portugis. Dalam jamuan makan itu seharusnya membicarakan mengenai membaiknya hubungan Ternate dan Portugis. Ternyata utusan gubernur Portugis Lopez de Mesquita berkhianat dan memerintahkan pembunuhan terhadap Sultan Khairun.

Kematian Sultan Khairun sontak membuat rakyat dan juga para raja di Maluku dewan kerajaan marah besar. Kaicil (pangeran) Baab kemudian dinobatkan sebagai Sultan Ternate dengan gelar Sultan Baabullah Datu Syah. Dalam pidato penobatannya Sultan Baabullah bersumpah bahwa ia akan berjuang untuk menegakkan kembali panji - panji Islam di Maluku dan menjadikan kesultanan Ternate sebagai kerajaan besar serta melakukan tindakan balasan sampai orang terakhir bangsa Portugis meninggalkan wilayah kerajaannya

Tak berselang lama setelah penobatannya Sulban Baabullah langsung menghimpun pasukan dan merancang strategi perang. Ia kemudian menyerukan jihad dan tampil menjadi koordinator dari berbagai suku yang berbeda akar genealogis di nusantara bagian timur. Raja – raja Maluku yang lainpun melupakan persaingan mereka dan bersatu dalam satu komando di bawah Sultan Baabullah dan panji Ternate, begitu pula raja – raja dan kepala suku di Sulawesi serta Papua.

Sultan Baabullah memiliki panglima – panglima yang handal, di antaranya ; Raja Jailolo Katarabumi, salahakan (gubernur) Sula Kapita Kapalaya, salahakan Ambon Kapita Kalakinka, dan Kapita Rubuhongi. Sultan Baabullah juga memiliki 120.000 prajurit dan mampu mengerahkan 2000 kora – kora dan.

Dengan kekuatan yang begitu besar benteng – benteng Portugis di Ternate yakni Tolucco, Santo Lucia dan Santo Pedro dalam waktu singkat dapat dikuasai. Hanya menyisakan Benteng Sao Paulo kediaman De Mesquita. Atas perintah Baabullah pasukan Ternate mengepung benteng Sao Paulo dan memutuskan hubungannya dengan dunia luar, suplai makanan dibatasi hanya sekadar agar penghuni benteng bisa bertahan.

Sultan Baabullah bisa saja menguasai benteng itu dengan kekerasan namun ia tak tega karena cukup banyak rakyat Ternate yang telah menikah dengan orang Portugis dan mereka tinggal dalam benteng bersama keluarganya. Sultan Baabullah kemudian mencabut segala fasilitas yang diberikan sultan Khairun kepada Portugis terutama menyangkut misi Jesuit.

Perang Soya – Soya (perang pembebasan negeri) dikobarkan, kedudukan Portugis di berbagai tempat digempur habis – habisan, tahun 1571 pasukan Ternate berkekuatan 30 juanga yang memuat 3000 serdadu di bawah pimpinan Kapita Kalakinka (Kalakinda) menyerbu Ambon dan berhasil mendudukinya.

Sampai pada akhirnya tahun 1575 M seluruh kekuasaan Portugis di Maluku dijatuhkan. Setelah selama lima tahun orang-orang Portugis dan keluarganya hidup menderita dalam benteng, terputus dari dunia luar sebagai balasan atas penghianatan mereka. Sultan Baabullah akhirnya memberi ultimatum agar mereka meninggalkan Ternate dalam waktu 24 jam. Mereka yang telah beristrikan pribumi Ternate diperbolehkan tetap tinggal dengan syarat menjadi kawula kerajaan.

Dengan kepergian orang Portugis, Sultan Baabullah menjadikan benteng Sao Paulo sebagai benteng sekaligus istana, ia merenovasi dan memperkuat benteng tersebut kemudian mengubah namanya menjadi benteng Gamalama. Sultan Baabullah masih melanjutkan hubungan dagang dengan bangsa barat termasuk Portugis dan mengizinkan mereka menetap di Tidore, akan tetapi tanpa pemberian hak istimewa, para pedagang barat diperlakukan sama dengan pedagang – pedagang dari negeri lain dan mereka tetap diawasi dengan ketat. (Dari berbgai sumber/ ZA)





Login Member

Kumpulan Rubrik



Rubrik Hukum
       Konsultasi Hukum
       Pos Pengaduan Publik
Rubrik Agama
       Hikmah
       Kajian Kitab
       Khazanah
       Khotbah
       Tokoh Tokoh Islam
       Konsultasi Agama
       Doa Harian
       Humor
       Kabar Islam
Rubrik Organisasi
       KTA Online
       Konsultasi Organisasi
Rubrik Seni
       Film
       Musik
       Acting
Ruang Usaha
DPLN (LN)
Bela Negara
Teknologi Tepat Guna
Hijabers dan Fashionista
Petiga TV