Logo PPP

DEWAN PIMPINAN PUSAT
PARTAI PERSATUAN PEMBANGUNAN

Sulthanah Shafiatuddin, Perempuan Pemimpin Kerajaan Aceh Darussalam

06 Februari 2018 - 20:51:47 | 160

Share: Facebook Twitter Google+ WhatsApp Telegram

thumbnail

PPP.OR.ID – Sejarah Aceh tidak bisa dilepaskan dari peran para perempuan hebat yang gigih dimedan perjuangan. Kita tentu mengenal nama-nama seperti Cut Muetia, Cut Nyak Dien, Laksamana Malahayati. Mereka adalah diantara sekian banyak nama yang dikenal namanya secara luas sampai sekarang ini. Lahirnya tokoh perempuan hebat dari Aceh tidak bisa dilepaskan dari peran Sulthanah Shafiatuddin, pemimpin perempuan pertama kerajaan Aceh Darusssalam.

Kepemimpinan Sulthanah Shafiatuddin terbilang berhasil, meskipun pada awalnya ada yang menyangsikan kepemimpinanya karena beliu perempuan. Hal itu terbantahkan dengan kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan sangat bagus dan menyentuh bidang-bidang strategis. Terbukti ketika tahun 1639 terjadi Perang Malaka, Sulthanah Shafiatuddin membentuk sebuah barisan perempuan untuk menguatkan benteng istana. Langkah taktis ini menjawab keraguan sejumlah kalangan yang sebelumnya ada. Beberapa kali aksi pemberontakan karena tidak stuju dengan kepemimpinannya juga berhasil diatasi. 

Di tangannya Kejayaan Kerajaan Aceh Darussalam dibangkitkan sebagaimana periode gemilang pada era kepemimpinan sang ayah, Sultan Iskandar Muda. Sulthanah Shafiatuddin naik tahta lantaran suaminya Sultan Iskandar Tsani wafat. Sulitnya mencari pengganti saat itu membuatnya harus melanjutkan kepemimpinan suaminya. Beliau merupakan putri tertua Raja yang memimpin Kerajaan Aceh Darussalam di era 1636-1641 tersebut. Sebelumnya, suaminya menjadi raja karena Sultan Iskandar Muda tidak memiliki keturunan laki-laki.

Hubungan diplomasi dengan kerajaan-kerajaan lain dapat dijaga oleh Sulthanah Shafiatuddin sehingga nama besar Kesultanan Aceh Darussalam tetap terjaga. Tak hanya itu, di masa kekuasaannya, Aceh Darussalam mengalami kemajuan pesat dalam berbagai bidang, termasuk ekonomi, agama, hukum, seni dan budaya, hingga ilmu pengetahuan seperti dijelaskan sebelumnya.

Pada masa kepemimpinan Sulthanah Safiatuddin perkembangan sastra bisa dikatakan sangat pesat. Hal ini tidak lain karena sang ratu merupakan sosok yang cinta terhadap bacaan. Dia banyak mengarang sajak dan cerita-cerita pendek. Sultanah Safiatuddin juga mendirikan perpustakaan untuk mencerdaskan rakyatnya. Maka tidak heran masa-masa itu lahir para cendekiawan macam Hamzah Fanshuri, Nuruddin Ar-Raniry, dan Syekh Abdurrauf Singkel. Ketiga orang yang disebut terakhir itu merupakan para ulama yang berhasil meletakkan pondasi kuat di bidang ilmu keislaman melalui sejumlah karya-karya monumentalnya.

Sulthanah Safiatuddin bertahta selama 34 tahun hingga wafat pada 1675. Sepeninggal sang ratu pertama itu, Kesultanan Aceh Darussalam masih dipimpin oleh para perempuan tangguh sampai 24 tahun setelahnya, yaitu berturut-turut Sulthanah Naqi al-Din Nur al-Alam (1675-1678), Sultanah Zaqi al-Din Inayat Syah (1678-1688), sampai masa pemerintahan Sultanah Kamalat Syah Zinat al-Din (1688-1699). Tiga Sulthanah terakhir merupakan hasil dari gebrakan Sulthanah Safiatuddin yang mengangkat meneruskan tahtanya karena beliau tidak memiliki keturunan. 

Sebagai seorang perempuan Sulthanah Safiatuddin membuktikan kemampuannya memimpin. Berawal sejarah kepemimpinan beliau kemuadian hari menginpirasi dan melahirkan banyak perempuan Aceh yang tangguh. Diantaranya adalah Laksamana Malahayati, Cut Meutia, Pecut Baren, Pocut Meurah Intan, Cutpo Fatimah, hingga tentunya Cut Nyak Dien yang masyhur itu. Berkat jasa dan gebrakannya nama Sulthanah Shafiatuddin diabadikan menjadi nama sebuah taman budaya di Banda Aceh, ibukota Provinsi Aceh. (Dari berbagai sumber/ ZA)





Login Member

Kumpulan Rubrik



Rubrik Hukum
       Konsultasi Hukum
       Pos Pengaduan Publik
Rubrik Agama
       Hikmah
       Kajian Kitab
       Khazanah
       Khotbah
       Tokoh Tokoh Islam
       Konsultasi Agama
       Doa Harian
       Humor
       Kabar Islam
Rubrik Organisasi
       KTA Online
       Konsultasi Organisasi
Rubrik Seni
       Film
       Musik
       Acting
Ruang Usaha
DPLN (LN)
Bela Negara
Teknologi Tepat Guna
Hijabers dan Fashionista
Petiga TV