Ilmu

Jakarta – Imam Syafi’i menjelaskan keutamaan ilmu sebagai berikut: “Barang siapa belajar al-Qur’an, maka harganya tinggi. Barang siapa yang belajar fikih, maka kualitasnya mulia. Barang siapa menulis hadis, maka argumentasinya kuat. Barang siapa yang belajar matematika, maka pendapatnya melimpah. Barang siapa belajar bahasa, maka lembut karakternya. Barang siapa tidak menjaga dirinya, maka ilmunya tidak bermanfaat.”
Ditegaskan dalam firman-Nya dalam surah al-Mujadalah ayat 11 yang artinya, “Allah akan meninggikan derajat orang yang berilmu di antara kalian dan orang yang dikaruniai ilmu beberapa derajat.”

Maka kedudukan orang yang berilmu 700 derajat lebih tinggi daripada orang beriman tetapi tidak berilmu ( menurut Ibnu Abbas r.a.) dan jarak untuk menempuh dua derajat mencapai lima ratus tahun perjalanan. Fath al-Mushali berkata, “Bukankah orang yang sakit kalau tidak diberi makan, minum, atau obat akan mati?”
Mereka menjawab,” Ya, benar.”

” Begitu juga hati manusia, kalau tidak diberi hikmah dan ilmu selama tiga hari, ia pasti mati.”

Itulah pentingnya memberikan makan hati melalui hikmah dan ilmu, dengan begitu hati menjadi hidup dan siapapun yang kehilangan ilmu, hatinya akan sakit. Maka ilmu adalah sangat penting, karena dengan berilmu seseorang akan mengenal Tuhannya dengan lebih baik, menjadikan hidupnya lebih bermakna.

Salah satu pintu untuk memperoleh ilmu adalah dengan membaca, ini sesuai dengan wahyu yang pertama turun, ” Bacalah.” Fasilitas untuk memperoleh ilmu saat ini semakin mudah karena banyaknya sekolah dan perguruan tinggi. Bagi seseorang yang telah berilmu hendaknya tetap beriman, sehingga dengan ilmunya bukan untuk merendahkan seseorang tetapi dapat memberikan kontribusi pada kehidupan masyarakat. Kesombongan atas ilmu yang dimiliki seseorang tiada artinya jika kita lihat luasnya Allah Swt. memberikan ” wadah ” untuk mencari ilmu yang begitu luas. Ingatlah bahwa semua perilaku dan kehendak setiap orang pasti sesuai dengan kehendak dan ketetapan-Nya. Maka kepandaian yang ia miliki untuk dapat membuat suatu proyeksi masa depan, menjadi sia-sia jika tidak diikuti kepasrahan pada-Nya. Hari esok adalah gaib, hanya Allah Swt. yang tahu.

Menyadari atas keterbatasan ilmu yang dimiliki seseorang adalah keniscayaan, tiada yang bisa klaim terhadap keahliannya kecuali dengan ijin-Nya. Apakah seorang yang berilmu tinggi dapat membuat telor? Tentu jawabnya, ” Ya bisa.” sama halnya membuat biji-bijian tanaman. Namun jika kita bertanya lagi, ” Apakah telor dan biji-bijian yang telah dibuat bisa dikembang biakan? Maka jawabannya, ” Tidak bisa.” Kenapa ?

Di sini telah menunjukkan keterbatasan ilmu tadi dibandingkan ilmu Allah Swt sebagai pencipta kehidupan dunia dan akhirat. Ruh adalah wewenang-Nya, manusia tidak akan sampai. Kita hanya menerima atas ketetapan-Nya dan ridha.

Jika melihat tentang bintang di langit, jarak antara bintang satu dengan lainnya sejauh lima juta tahun cahaya. Jika ada bintang yang bersinar terang kemudian padam, maka kita tidak dapat melihat padamnya bintang itu kecuali setelah lima juta tahun dari waktu padamnya bintang itu. Oleh sebab itu jika kita memikirkan kejadian suatu bintang yang demikian jauh jaraknya dari bumi, maka kita akan terpesona dengan terbentuknya alam semesta yang begitu rapi dalam susunannya. Keterjangkauan alam pikiran seseorang tentu tidak mampu sepenuhnya dalam menelaah seluruh ciptaan-Nya, kemampuan itu diberikan Allah Swt. sebatas mengetahui fungsi dan manfaat seperti fungsi otak, jantung dan hati. Menelaah keteraturan fungsi-fungsi dalam tubuh kita akan membuahkan keterpesonaan, bagi yang beriman pasti akan memuji kebesaran-Nya.

Sesuai dengan tuntunan ajaran Islam, dalam al-Quran banyak terdapat ayat-ayat yang diakhiri dengan kata-kata afala ta’qilun (apakah kamu tidak berakal), afala tatafakkarun (apakah kamu tidak berpikir) atau afala yatadabbarun (apakah mereka tidak merenung). Ini merupakan perintah bagi umat muslim untuk selalu belajar sampai berakhirnya kehidupan dunia. Penulis akhiri dengan senandung syair sebagai berikut :

Keduanya merupakan pasangan laksana permata.
Tanpa ilmu, ibadah akan sia-sia.
Menyembah tanpa kenal yang disembah, adalah ” buta “.
Ilmu akan mengenalkan dan menjadi khusyu’.
Tuntutlah ilmu dengan tidak merusak ibadah.
Ibadahlah dengan tidak melupakan ilmu.
Ilmu adalah pokok pangkal dan ibadah adalah buahnya.
Berlebihan, tindakan kurang elok.
Menuntut ilmu dibolehkan ” berlebihan”.
Namun tiada mudah, menuntut ilmu laksana menaiki tanjakan.
Ada yang terjal dan licin.
Banyak yang tergelincir.
Berhenti, kehabisan semangat.
Ada yang tersesat jalan.
Niatkan perjalanan ini ( menuntut ilmu ), bukan sekedar riwayat.
Karena kau gali dengan menukil.
Sampaikan pada khalayak, semata menunjukkan ketinggian ilmunya.
Tuntutlah ilmu secara dirayah.
Menghilangkan kebodohan diri dan khalayak.
Jadikan bekal akhirat, menuju ridha dan rasa syukur pada Allah Swt.
Berjalan ( menuntut ilmu ) tanpa ramai, sunyi nan sendiri.
Menjauh dari berdebat yang tiada obat.
Hindarilah menjadi fakir.
Bukan karena tiada berharta.
Melainkan tiada berilmu.
Taklukan tanjakan tauhid, tasawwuf dan syari’at.
Berlindunglah pada Allah Swt. dari ilmu tiada manfaat dan amal sia-sia.

Semoga Allah Swt. memberikan hidayah dan bimbingannya agar kita semua menjadi orang yang berilmu dan tetap bersikap rendah hati.

Aunur Rofiq
Sekretaris Majelis Pakar DPP PPP 2020-2025
Ketua Dewan Pembina HIPSI ( Himpunan Pengusaha Santri Indonesia)

 

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

INSTAGRAM

IKUTI KAMI

313,160FansSuka
53,232PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

TERKINI